Kemendag Mau Bikin Bursa Kripto, Perlu Nggak Sih?

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 25 Mei 2021 21:00 WIB
LONDON, ENGLAND - APRIL 25: In this photo illustration of the litecoin, ripple and ethereum cryptocurrency altcoins sit arranged for a photograph beside a smartphone displaying the current price chart for ethereum on April 25, 2018 in London, England. Cryptocurrency markets began to recover this month following a massive crash during the first quarter of 2018, seeing more than $550 billion wiped from the total market capitalisation. (Photo by Jack Taylor/Getty Images)
Foto: Jack Taylor/Getty Images
Jakarta -

Kementerian Perdagangan telah menyatakan akan membuat bursa khusus menaungi perdagangan cryptocurrency di Indonesia. Salah satu alasannya karena pemerintah melihat adanya peluang pemasukan negara baru.

Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee menjelaskan, alasan lain juga, pemerintah melihat banyaknya investor di pasar tersebut. Sehingga dikhawatirkan kabur jika tidak dinaungi.

"Jadib kalau dilarang takutnya mereka nanti transaksi di luar negeri. Sehingga ada devisa yang keluar, jadi biarkan saja. Tapi kan ini ada ideologi, yang lebih besar masalahnya dari pada itu," terangnya kepada detikcom, Selasa (25/5/2021).

Hans menjelaskan, lembaga bursa dibentuk seharusnya hanya menaungi instrumen investasi yang memiliki underlying asset. Sementara kripto tidak memiliki underlying apapun.

Menurutnya fundamental uang kripto baru akan terbentuk jika sudah diterima oleh banyak negara sebagai alat transaksi. Selama belum ada yang menerima maka pergerakan kripto tidak ada yang mendasari atau 100% spekulasi.

"Ya memang pasarnya ramai, investornya juga besar, yang transaksi juga besar. Tapi gini, bursa itu menanungi produk yang underlying-nya jelas. Dan harus kita sadari sebetulnya yang untung hanya segelintir orang, yang sudah main lama. Tapi yang akan rugi adalah orang-orang yang baru masuk, itu yang kasihan," tuturnya.

Jika suatu instrumen investasi tidak memiliki fundamental maka yang menggerakan hanya supply & demand berdasarkan psikologis pelaku pasarnnya saja. Artinya tidak ada yang pasti dalam pergerakan harganya, seperti berjudi. Oleh karena itu menurut Hans bursa kripto hanya menyediakan tempat berjudi saja.

"Misalnya saya beli aset kripto, habis itu saya berdoa mudah-mudahan ada orang yang lebih bodoh dari saya untuk membeli kripto ini sehingga harganya naik. Karena ini nggak ada fundamental value. Kalau posisi seperti itu bikin bursanya sama seperti kita buat kasino untuk berjudi. Ini yang tentu kita sedikit prihatin, karena banyak orang Indonesia yang uangnya ada tapi kemampuan keuangannya relatif terbatas," tuturnya.

Sementara Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada menilai kebebasan pasar kripto membuat pergerakan harganya sangat sulit diprediksi. Tidak ada batas yang bisa diperkirakan sampai kapan harganya naik, atau sampai seberapa dalam harganya akan turun.

Hanya mereka yang memiliki uang yang banyak yang bisa mengatur pasar. Menurutnya pasar seperti sangat berbahaya.

"Ya bahaya kalau seperti itu. Tapi definisi bahaya bagi setiap orang berbeda-beda, ada yang menganggap itu sebagai peluang. Tapi ya ini lebih kepada spekulasi. Kalau spekulasi kan membuat kita nggak tenang," ucapnya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengatakan pemerintah melihat adanya peluang pemasukan negara dalam data transaksi perdagangan kripto yang mencapai Rp 1,7 triliun per hari. Oleh karena itu, Kemendag semakin serius untuk membuat bursa khusus perdagangan uang kripto.

Dengan membuat bursa khusus kripto, menurut Jerry perdagangan nantinya akan lebih lebih baik dan transparan karena akan ada regulasi yang jelas. Selain itu lembaga bursa yang dibentuk juga bisa menjadi wadah bagi pelaku yang mencari pertanggung jawaban.

Ada 3 hal yang menurutnya bermanfaat dari bursa kripto nantinya. Pertama memudahkan para pelaku, kedua regulasi dan peraturan akan lebih jelas, ketiga bermanfaat untuk menambah pemasukan negara.

(dna/dna)