Harga Kripto Populer Kompak Hijau, Bitcoin Melesat Paling Tinggi

Tim detikcom - detikFinance
Senin, 14 Jun 2021 16:44 WIB
VANCOUVER, BC - OCTOBER 29: Gabriel Scheare uses the worlds first bitcoin ATM on October 29, 2013 at Waves Coffee House in Vancouver, British Columbia. Scheare said he just felt like being part of history. The ATM, named Robocoin, allows users to buy or sell the digital currency known as bitcoins. Once only used for black market sales on the internet, bitcoins are starting to be accepted at a growing number of businesses. (Photo by David Ryder/Getty Images)
Foto: Getty Images
Jakarta -

Harga bitcoin sore ini kembali menguat. Mengutip coindesk, harga kripto terpopuler tersebut melesat 10,14% sore ini ke level US$ 39.230 atau Rp 558 juta.

Berdasarkan grafik. peningkatan harga bitcoin dalam beberapa hari terakhir terpantau cukup pasti. Saat ini kapitalisasi pasar bitcoin berada di angka US$ 734,58 miliar dan selama 24 jam terakhir diperdagangkan US$ 42,17 miliar.

Jika ditarik sejak awal tahun, imbal hasil bitcoin tercatat berada di angka 35%. Artinya, jika mulai berinvestasi bitcoin di awal tahun ini, peningkatan harganya 35%.

Adapun level tertinggi bitcoin masih berada di level US$ 64.829. Penurunan yang masih cukup jauh jika dilihat level hari ini.

Harga kripto populer lainnya juga mengalami peningkatan sore ini. Ethereum tercatat naik 5,5%, XRP 5%, Cardano 5,4%, dan Dogecoin 3,7%.

Bitcoin adalah salah satu mata uang digital yang paling tenar di dunia. Namun harganya yang sangat fluktuatif dan risiko tinggi membuat orang kerap kali menelan kerugian. Walaupun popularitas uang kripto ini sangat tinggi, Bank Sentral AS tetap membangun batasan dengan dolar AS.

Chairman Federal Reserve Jerome Powell pada Mei lalu sempat mengumumkan jika bank sentral akan menerbitkan hasil kajian tentang manfaat dan risiko terkait dolar AS digital.

Namun sejumlah kalangan menilai, meskipun cryptocurrency seperti bitcoin adalah digital. Mata Uang Digital Bank Sentral akan berbeda, karena masih dikendalikan oleh bank sentral dan bukan jaringan komputer yang terdesentralisasi.

(eds/eds)