Wow! Keluarga Asal Belanda Ini Asetnya Hanya Bitcoin

Aulia Damayanti - detikFinance
Sabtu, 26 Jun 2021 10:20 WIB
VANCOUVER, BC - OCTOBER 29: Gabriel Scheare uses the worlds first bitcoin ATM on October 29, 2013 at Waves Coffee House in Vancouver, British Columbia. Scheare said he just felt like being part of history. The ATM, named Robocoin, allows users to buy or sell the digital currency known as bitcoins. Once only used for black market sales on the internet, bitcoins are starting to be accepted at a growing number of businesses. (Photo by David Ryder/Getty Images)
Ilustrasi/Foto: Getty Images
Jakarta -

Keluarga Didi Taihuttu asal Belanda mempertaruhkan semua asetnya untuk membeli cryptocurrency terpopuler di dunia, Bitcoin. Hampir empat tahun belakangan Taihuttu, bapak tiga anak itu belum lagi memiliki rekening bank, rumah, atau harga pribadi lainnya.

"Kami melangkah ke Bitcoin, karena kami ingin mengubah hidup kami," kata ayah tiga anak berusia 42 tahun itu, dikutip dari CNBC, Sabtu (26/6/2021).

Semua itu berawal pada 2017 silam, Taihuttu telah menjual semua asetnya dari bisnis, rumah seluas 2.500 kaki atau 232 m2, hingga sepatu mereka. Semua asetnya dijual untuk memperdagangkan bitcoin dan keliling dunia. Sebagai informasi, hingga saat ini mereka telah berkeliling dunia ke 40 negara.

Saat itu, harga Bitcoin hanya US$ 900 setara Rp 12 juta (kurs Rp 14.425). Hanya beberapa bulan dari itu harganya melonjak ke level Rp US$ 20.000 per koinnya. Taihuttu percaya nilai bitcoin akan terus melonjak. Saat harga memuncak itupun keluarga itu terus menambahkan aset digitalnya itu.

"Saya pikir dalam siklus bull ini, kita akan melihat puncak minimal US$ 100.000. Saya tidak akan terkejut jika mencapai US$ 200.000 pada tahun 2022," katanya.

Tahun berikutnya pada 2018, Taihuttu menambahkan lebih banyak ke portofolio investasinya. Padahal saat itu harga Bitcoin anjlok ke level US$ 3.000, namun komitmen mereka tidak tergoyahkan. Taihuttu mengatakan saat nilai bitcoin turun itu menjadi kesempatan untuk memborong lebih banyak.

Menurut bapak tiga anak itu, dia tidak khawatir dengan naik turunya nilai aset digital itu yang dikhawatirkan kini Bitcoin mulai masuk krisi pasokan karena investornya makin banyak.

Harga Bitcoin mencapai titik tertinggi sepanjang masa pada hari Senin kemarin, ditutup pada US$ 20.000. Dan beberapa analis mengatakan cryptocurrency masih memiliki banyak ruang untuk berlari lebih tinggi.

CEO perusahaan investasi Galaxy Digital, Mike Novogratz berpikir kenaikan Bitcoin ini baru saja dimulai. Dia melihat Bitcoin bisa naik menjadi US$ 60.000 pada tahun depan.

Bos CitiFXTechnicals Tom Fitzpatrick juga memprediksi Bitcoin dapat mencapai US$ 318.000 pada Desember 2021. Prediksi dia berdasarkan dalam sebuah laporan yang ditujukan untuk klien institusi Citibank.

(hns/hns)