Genjot Perdagangan Digital, Kemendag Lirik Game Online hingga Kripto

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Selasa, 17 Agu 2021 21:30 WIB
SALT LAKE CITY, UT - APRIL 26: A pile of Bitcoins are shown here after Software engineer Mike Caldwell minted them in his shop on April 26, 2013 in Sandy, Utah. Bitcoin is an experimental digital currency used over the Internet that is gaining in popularity worldwide. (Photo by George Frey/Getty Images)
Foto: Getty Images
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkirakan nilai transaksi perdagangan digital akan menembus angka Rp 330 triliun tahun ini. Angka ini meningkat dari capaian tahun lalu sebesar Rp 250 triliun.

Tak hanya itu, Jokowi mengatakan sebanyak 14 juta atau 22% UMKM telah bergabung dengan aplikasi perdagangan elektronik. Bagi Jokowi, partisipasi ekonomi digital ini sangat penting.

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengatakan, Kementerian Perdagangan akan terus memacu ekonomi digital ini. Dia bilang, ada tiga strategi yang akan ditempuh.

Sebutnya, pertama, bekerjasama dengan pemangku kepentingan dalam membentuk jaringan provider digitalisasi perdagangan. Kedua, melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai perlunya transformasi ke perdagangan digital. Ketiga, mengembangkan perdagangan digital ke produk-produk digital itu sendiri.

"Jadi sesuai arahan Presiden, Kementerian Perdagangan bukan hanya menjual barang-barang fisik saja dalam platform digital, tetapi juga mengembangkan perdagangan produk-produk digital karya anak negeri," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (!7/8/2021).

Menurutnya, bentuk dari produk digital antara lain aplikasi, platform, alat simulasi, game online hingga produk animasi. Dia menjelaskan, banyak generasi muda yang menggeluti bidang-bidang tersebut dan perlu difasilitasi agar produknya bisa bersaing dan mempunyai pasaran yang luas seperti produk luar negeri.

Dia mengatakan, potensinya pun luar biasa karena karya digital developer-developer Indonesia bukan hanya bagus secara teknologi tetapi juga artisitik dan menarik secara visual. Hal ini tidak lepas dari latar belakang budaya yang sangat beragam.

Produk digital lain yang juga sangat berpotensi adalah aset digital berbentuk kripto. Aset kripto selama ini belum dimasukkan secara resmi dalam data perdagangan digital karena memang belum lengkapnya aturan dan belum terbentuknya bursa kripto di Indonesia.

Padahal, di Indonesia perdagangan aset kripto sudah mencapai lebih dari Rp 300 triliun setahun. Maka itu, Kementerian Perdagangan tengah serius dalam upaya untuk mendirikan bursa kripto.

"Dengan bursa, negara bisa melakukan fungsi pengawasan, pencatatan, pengelolaan potensi dan risiko serta perlindungan konsumen. Karena itu, bursa kripto harus segera kita dirikan. Mudah-mudahan dalam semester kedua 2021 ini bursa kripto sudah resmi berdiri di Indonesia," katanya.

(acd/zlf)