China Melemah, Kazakhstan Makin Dominasi Penambangan Bitcoin

Siti Fatimah - detikFinance
Kamis, 23 Sep 2021 16:20 WIB
bitcoin
Foto: Feritekno
Jakarta -

Baru-baru ini, Kazakhstan berhasil menduduki negara terbesar ketiga dalam hal energi penambangan Bitcoin. Pencapaian tersebut menarik perhatian publik untuk negara yang pada dasarnya menggunakan batu bara.

Data dari Cambridge Bitcoin Electricity Consumption Index menunjukkan bahwa pangsa global Kazakhstan dari pemrosesan cryptocurrency telah meningkat secara signifikan. Di sisi lain negara-negara utama sebagai 'penambangan crypto' justru melambat.

Di China, yang merupakan produsen unit cryptocurrency terbesar, sebelumnya telah memperketat peraturan tentang koin digital. Hal itu membuat banyak orang beralih ke server di Kazakhstan.

BIT Mining, salah satu penambang terbesar di China memindahkan beberapa operasinya ke Kazakhstan. Mereka mengirimkan sekitar 320 server yang membuat Kazakhstan menjadi tuan rumah 20 penambangan kripto.

Pada bulan Agustus, The9, sebuah perusahaan penambangan crypto China yang terdaftar di bursa saham Nasdaq mengatakan, telah menandatangani perjanjian dengan perusahaan lokal Kazakhstan untuk membangun fasilitas penambangan dengan total kapasitas 200 MW antara tahun 2021 dan 2022.

Kazakhstan dinilai menawarkan pasar yang menarik dengan harga per kWh rata-rata sekitar 5 sen, dibandingkan dengan 9-11 sen di Rusia, Cina, dan Amerika Serikat. Dengan selisih harga sekitar setengahnya, keuangan penambangan crypto Kazakhstan terlihat lebih baik daripada pesaingnya.

Pada Juni 2020, Presiden Kassym-Jomart Tokayev menyetujui amandemen "kode digital" negara itu, artinya secara efektif melegalkan penambangan kripto di Kazakhstan. Selain itu, regulasi yang mudah dan potensi bullish bagi bank yang mulai menawarkan akun cryptocurrency memberikan peluang pasar yang tak tertandingi.

Menurut amandemen Kode Pajak Kazakhstan baru-baru ini, mulai Januari 2022, penambang kripto harus membayar satu tenge tambahan (0,23 sen) per kWh, yang memungkinkan pemerintah mendapatkan penerimaan pajak lebih banyak dari penambangan cryptocurrency.

Cryptocurrency diproduksi, atau ditambang melalui jaringan komputer, tentu saja dalam prosesnya membutuhkan kekuatan listrik yang besar. Listrik Kazakhstan sebagian besar berasal dari bahan bakar fosil, dengan sebagian besar berasal dari batubara.

Pada 3 September, Tokayev mengatakan bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir akan menjadi solusi untuk mengurangi jejak karbon negara itu. "Kemungkinan untuk membangun sektor energi nuklir di Kazakhstan harus dieksplorasi secara komprehensif. Secara pribadi, saya pikir inilah saatnya untuk menganalisis masalah ini secara mendalam, karena Kazakhstan membutuhkan pembangkit listrik tenaga nuklir," kata Tokayev dikutip dari The Diplomat, Kamis (23/9/2021).

Sekedar informasi, China di bawah kepemimpinan Xi Jinping melarang lembaga keuangan dan perusahaan pembayaran untuk menyediakan layanan transaksi mata uang kripto. Negara itu juga mengimbau investor tidak melakukan perdagangan Bitcoin cs.

Lembaga termasuk bank dan saluran pembayaran online tidak boleh menawarkan klien layanan apa pun yang melibatkan uang kripto, seperti pendaftaran, perdagangan, kliring, dan penyelesaian.

Aturan itu disampaikan oleh tiga badan industri, yaitu Asosiasi Keuangan Internet Nasional China, Asosiasi Perbankan China, dan Asosiasi Pembayaran dan Kliring China. Mereka mengatakan, institusi tidak boleh menyediakan layanan tabungan, penjaminan Bitcoin cs, atau mengeluarkan produk keuangan yang terkait dengan uang kripto.

"Baru-baru ini, harga mata uang kripto telah meroket dan anjlok, dan perdagangan spekulatif mata uang kripto telah pulih, secara serius melanggar keamanan properti orang dan mengganggu tatanan ekonomi dan keuangan normal," kata mereka dalam sebuah pernyataan dikutip dari CNBC.



Simak Video "Sejuta Cara Pemerintah China Bikin Bitcoin Babak Belur"
[Gambas:Video 20detik]
(das/das)