Fatwa MUI Haramkan Bitcoin cs buat Mata Uang, Aplikator Trading Buka Suara

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Jumat, 12 Nov 2021 20:45 WIB
Bitcoin
Ilustrasi/Foto: Feritekno
Jakarta -

Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengharamkan penggunaan aset kripto sebagai mata uang. Hal itu pun menuai respons dari penyedia platform jual beli aset kripto, salah satunya Indodax.

CEO Indodax Oscar Darmawan menjelaskan di Indonesia aset kripto memang bukan dijadikan sebagai mata uang.

"Di Indonesia, aset kripto memang bukan untuk mata uang sebagaimana peraturan Bank Indonesia ini juga sama seperti hasil musyawarah MUI yang mengharamkan kripto sebagai mata uang karena di Indonesia hanya rupiah mata uang yang diakui. Di Indodax sendiri kita memperdagangkan banyak jenis aset kripto, bahkan volume perdagangan terbesar di Indodax datang dari aset kripto yang punya underlying aset fisik," jelas Oscar dalam keterangannya, Jumat (12/10/2021).

Soal underlying aset, dia mengatakan, hampir semua aset kripto memiliki underlying aset. Ia menyebut, ada underlying yang mudah dipahami dalam bentuk fisik. Ada juga yang underlying-nya berupa biaya penerbitan seperti bitcoin.

"Sebenarnya semua aset kripto punya underlyingnya. Cuma ada yang underlyingnya mudah dipahami dalam aset fisik seperti USDT, LGold, LSILVER, XSGD tapi ada juga yang underlyingnya berupa biaya penerbitannya seperti bitcoin," katanya.

"Bitcoin memiliki underlying berupa biaya penambangan bitcoin untuk proses verifikasi dan penerbitan bitcoin yang membutuhkan biaya listrik sebesar 150 TeraWatt per jam nya cuma memang bentuknya murni digital ya namanya ini inovasi teknologi sekarang uang aja sudah tidak ada bentuk fisiknya cuma digital seperti emoney. Jadi karena ada biaya produksinya, bitcoin tidak muncul begitu saja makanya jangan heran kalau bitcoin harganya naik terus," sambung Oscar.

Indodax sendiri saat ini mempunyai lebih dari 4,5 juta member dengan 99% adalah penduduk Indonesia yang hidup dari trading aset kripto. Sekarang Indodax sudah menolong 4,5 juta orang Indonesia melewati masa sulit saat pandemi corona ini dengan memberikan pekerjaan alternatif sebagai trader aset kripto.

"Banyak orang yang tidak ada lapangan pekerjaan sekarang hidup dari trading aset kripto.Indodax ada 170 jenis aset kripto. Jadi jenisnya banyak. Tinggal trader pilih saja mau trading aset kripto yang mana. Menurut saya pribadi sebenarnya hampir semua aset kripto ada underlyingnya kalau dipelajari secara teknologi dan manfaat namun itu semua dikembalikan kepada sudut pandang masing masing trader," tutur Oscar.

(acd/hns)