Dinodai Pinjol Ilegal, Masyarakat Jadi Alergi Fintech

Trio Hamdani - detikFinance
Jumat, 10 Des 2021 19:15 WIB
Pinjol Ilegal
Foto: Pinjol Ilegal (Denny Pratama/detikcom)
Jakarta -

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan banyak masyarakat yang 'alergi' terhadap perusahaan pinjaman online (pinjol). Hal itu disebabkan oleh peredaran pinjol ilegal yang meresahkan masyarakat. Alhasil perusahaan yang legal pun kena getahnya.

Padahal, dijelaskan Deputi Direktur Pengaturan, Penelitian, dan Pengembangan Fintech OJK Munawar Kasan, pinjol atau fintech yang resmi telah memberikan segudang manfaat kepada masyarakat yang selama ini tidak tersentuh bank.

"Nah sayangnya ternyata kemudian kehadiran industri ini dikotori, ada yang menyabotase, itu fintech ilegal sehingga ini bisa mempengaruhi kepercayaan industri. Orang yang tadinya nyaman dengan industri ini dengan segala kemudahannya kemudian ditakut-takuti oleh fintech ilegal," katanya dalam Launching Rebranding AFPI, Jumat (10/12/2021).

Oleh karena itu Asosiasi FinTech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) yang menaungi fintech legal memiliki pekerjaan rumah untuk menghapus stigma yang disebabkan pinjol Ilegal.

"Sekarang orang bayangannya kalau mendengar istilah pinjol -saya beberapa kali dalam sebuah forum saya tanya- 'coba para peserta tulis 1 atau 2 kata terkait dengan pinjaman online', ternyata mayoritas pikirannya masih negatif, tidak kemudian 'oh pinjaman online adalah membantu UMKM', nggak ternyata, mayoritas masih negatif image-nya," jelas dia.

Dia menjelaskan dalam waktu 5 tahunan sudah ada lebih dari 72 juta akun pengguna pinjol. Itu artinya industri ini bisa diterima oleh masyarakat. Tinggal bagaimana masyarakat diberikan pemahaman akan perbedaan pinjol legal dan ilegal.

Bicara soal fintech legal sudah tidak perlu diperdebatkan. Namun soal keamanan, itu yang perlu diyakinkan kepada masyarakat. Aman yang dimaksud di sini mencakup seluruh aspek mulai dari data pengguna yang tidak akan disalahgunakan.

"Aman bahwa kemudian saya tidak diteror. Jadi yang namanya pinjam macet itu biasa, ditagih itu biasa, tapi jangan sampai kemudian meneror. Jadi ke depan persoalan bagaimana memberikan edukasi publik itu bagus, tapi sebenarnya ada (persoalan) internal juga bagaimana teman-teman industri ini yang harus berbenah," tambahnya.

(toy/das)