ADVERTISEMENT

Tren NFT Berpotensi Merusak Lingkungan, Kok Bisa?

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Senin, 07 Feb 2022 12:28 WIB
Ilustrasi NFT non fungible token
Foto: Getty Images/iStockphoto/Rawf8
Jakarta -

Kehadiran Non-Fungible Tokens (NFT) semakin booming di kalangan netizen global. Bahkan di Indonesia sendiri baru-baru ini, masyarakat sempat dihebohkan dengan sosok Ghozali yang mendadak sukses lewat penjualan NFT foto selfi-nya di OpenSea.

Bermodal koleksi foto selfie sejak 2017-2021, Ghozali berhasil cuan besar lebih dari 900 NFT, bahkan yang termahal dihargai 66.346 ETH atau sekitar Rp 2,3 triliun.

Namun tahu kah kamu, ternyata trend NFT ini berpotensi merusak lingkungan. Kok Bisa? Yuk simak penjelasannya di bawah ini.

Sederhananya, NFT merupakan token digital unik yang dibentuk melalui serangkaian transaksi komputer yang dapat memberi seseorang kepemilikan sebuah karya seni, seperti video, lagu, atau gambar.

Melansir dari brightly, Senin (7/2/2022), sama seperti cryptocurrency pada umumnya, produksi NFT ini dilakukan menggunakan perangkat blockchain serta penggunaan komputer khusus untuk menyelesaikan algoritma kompleks (dikenal dengan istilah mining/penambangan).

Perangkat ini ternyata menguras energi listrik lebih banyak dari biasanya. Karenanya baik itu NFT ataupun cryptocurrency seperti bitcoin Cs, mereka mereka berdua menggunakan banyak energi.

Berdasarkan sebuah studi tahun 2018 yang diterbitkan di Nature Climate Change menemukan bahwa emisi Bitcoin saja dapat meningkatkan suhu Bumi hingga dua derajat. Hal ini disebabkan oleh proses penambangan Bitcoin yang menghasilkan sekitar 38 juta ton CO2 per tahun.

"Bitcoin adalah blockchain proof-of-work, yang berarti ia menggunakan mekanisme konsensus proof-of-work (PoW) untuk mengamankan blockchain dan memverifikasi transaksi. PoW berarti para penambang bersaing satu sama lain untuk menambang satu blok," kata Susanne Köhler, rekan PhD dan peneliti teknologi blockchain berkelanjutan di Universitas Aalborg di Denmark.

"Dalam kompetisi ini, komputer khusus menghasilkan beberapa triliun tebakan per detik untuk dicoba dan menang. Anda bisa menyebutnya pendekatan brute-force. Ini yang membutuhkan banyak listrik," sambungnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT