Sejarah soal Terra Luna yang Lagi Heboh karena Harganya Ancur

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 15 Mei 2022 09:00 WIB
Terra Luna
Foto: Terra Luna
Jakarta -

Aset kripto bernama Terra LUNA berhasil menyita pernyataan publik. Pasalnya, aset kripto satu ini mengalami penurunan harga yang signifikan dalam waktu yang sangat singkat.

Cuma dalam hitungan hari, Terra LUNA telah mengalami penurunan sangat tajam. Dilansir dari CoinmarketCap, dalam waktu cuma seminggu harga Terra LUNA telah anjlok 100% lebih.

Di hari Senin 9 Mei kemarin, LUNA terpantau berada di harga US$ 32 atau sekitar Rp 457.600. Hingga 13 Mei kemarin harganya sudah mencapai US$ 0,000102 atau cuma sekitar Rp 1,7 alias cuma satu perak lebih sedikit. Padahal, LUNA pernah menyentuh level tertinggi senilai US$ 119 atau setara Rp 1,7 juta per koin di bulan April.

Bahkan, beberapa marketplace kripto saat ini mulai menghentikan perdagangan LUNA dari 'pasarnya'. Harganya hancur dalam sekejap, seperti apa awal mula Terra LUNA terbentuk? Berikut ini kisahnya sebagaimana dirangkum dari catatan detikcom.

Terra LUNA sendiri adalah bentuk aset kripto yang dikembangkan oleh Terra Labs di Korea Selatan. Do Kwon adalah pencipta dari aset kripto Terra LUNA, dia mulai menggarap proyek ini di medio 2018 silam.

Dia dan kawannya, Daniel Shin ingin mengembangkan sebuah mata uang kripto yang tahan dengan volatilitas harga. Aset kripto macam ini terkenal dengan sebutan Stablecoin.

Lengkapnya, Stablecoin adalah salah satu jenis aset kripto yang dirancang untuk dilindungi dari volatilitas harga liar yang terjadi. Selama ini, Stablecoin dibuat untuk mempertahankan nilai tukarnya secara konstan dengan mata uang yang ada.

Nah sebelum membuat Stablecoin, Terra Labs mengeluarkan Terra LUNA terlebih dahulu. Initial coin offering (ICO) Terra LUNA pun dilakukan pada 2019. Terra LUNA juga pernah menjadi aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar keenam, dengan nilai US$ 40 miliar.

Terra dibuat dengan tujuan membentuk alat pembayaran baru yang ringkas dan menggantikan rantai nilai pembayaran yang rumit. Misalnya, jaringan kartu kredit, bank, dan gateway. Semua pembayaran akan dilakukan dengan satu lapisan blockchain.

Melalui blockchain, Terra dapat menawarkan biaya transaksi yang jauh lebih murah, menghemat uang yang dapat diinvestasikan kembali dalam hal lain.

Terra LUNA saat ini telah mengumpulkan US$ 32 juta dari raksasa kripto seperti Binance, Arrington XRP dan Polychain Capital, serta membentuk aliansi mitra dagang termasuk Ticketmonster dan layanan perjalanan Yanolja.

Terra Labs juga ingin membuat aset kripto Stablecoin, maka dari itu TerraUSD juga dibentuk di samping Terra LUNA. Sebagai Stablecoin, TerraUSD dibesut untuk menahan harga token setara dengan Dolar AS 1:1. Artinya, satu koin TerraUSD harganya setara dengan 1 Dolar Amerika Serikat.

Berbeda dengan aset Stablecoin lainnya, TerraUSD tidak memiliki uang tunai dan aset lain yang disimpan sebagai cadangan untuk mendukung tokennya. Sebagai gantinya Terra menggunakan campuran kode yang kompleks dan token LUNA untuk menstabilkan harga.

Jadi, sejauh ini Terra Labs memiliki dua jenis aset kripto yang dilempar ke pasar. TerraUSD sebagai Stablecoin, dan token berkode LUNA sebagai aset kripto biasa seperti Bitcoin dkk.

Secara sederhana dua aset kripto yang dikeluarkan tadi saling mempengaruhi. Khususnya untuk mempertahankan harga TerraUSD. Bila harga TerraUSD mengalami penurunan yang bisa menstabilkan hanyalah token LUNA.



Simak Video "Walau Alami Penurunan, Developer yakin Harga Kripto Akan Tetap Bullish"
[Gambas:Video 20detik]
(hal/zlf)