ADVERTISEMENT

Korea Utara Akhirnya Kena 'Tulah' Gara-gara Kripto Ambruk

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Rabu, 29 Jun 2022 14:11 WIB
Peretas Korea Utara Curi Rp5,7 Triliun Mata Uang Kripto
Peretas Korea Utara Curi Rp5,7 Triliun Mata Uang Kripto/Foto: DW (News)
Jakarta -

Anjloknya pasar cryptocurrency atau kripto membuat Korea Utara kalang kabut. Korea Utara sendiri memang kerap dilaporkan melakukan peretasan atau pencurian mata uang kripto di dunia. Kripto ini lalu digunakan sebagai sumber pendanaan utama negara tersebut.

Mengutip Reuters, Rabu (29/6/2022), Korea Utara disebut telah mencurahkan sumber dayanya untuk mencuri kripto dalam beberapa tahun terakhir.

Pada Maret lalu, Departemen Keuangan AS mencatat jumlah kripto yang dicuri Korea Utara mencapai US$ 615 juta. Hal ini menjadikan Korea Utara sebagai ancaman terbesar terkait dengan pencurian kripto.

Kini pasar kripto sedang ambruk. Penurunan tiba-tiba dalam nilai kripto, yang dimulai pada Mei kemarin membuat Pyoyang kesulitan untuk menguangkan kripto-kripto curiannya. Hal ini dapat memengaruhi bagaimana rencananya untuk mendanai program senjatanya.

Korea Utara dikabarkan sedang menguji sejumlah rudal yang diperkirakan oleh Institut Analisis Pertahanan Korea di Seoul telah menelan biaya sebanyak US$ 620 juta sepanjang tahun ini. Bahkan mereka sudah siap untuk melanjutkan uji coba nuklir di tengah krisis ekonomi.

Kripto yang dimiliki Korea Utara itu telah menurun nilainya dari US$ 170 juta menjadi US$ 65 juta sejak awal tahun ini. Sebab, berdasarkan laporan perusahaan analitik blockchain yang berbasis di New York, Chainalysis, Korea Utara sudah terlalu lama tak mencairkan kriptonya.

Sebagai contoh, salah satu hasil curian kripto Korea Utara dari tahun 2021, yang awalnya bernilai puluhan juta dolar, kini anjlok 80% hingga 85% hanya dalam beberapa minggu. Sekarang nilainya kurang dari US$ 10 juta.

Pihak Korea Utara sendiri membantah semua tudingan itu. Seseorang yang menjawab telepon di kedutaan Korea Utara di London mengatakan dia tidak bisa mengomentari kejatuhan pasar kripto itu karena tuduhan peretasan mata uang kripto adalah berita palsu.

"Kami tidak melakukan apa-apa," kata orang yang hanya menyebut dirinya sebagai diplomat kedutaan. Kementerian luar negeri Korea Utara menyebut tuduhan semacam itu sebagai propaganda AS.

(fdl/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT