ADVERTISEMENT

Kacau! Hacker Korut Curi Kripto Para Gamer Rp 8,8 T

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 18 Apr 2022 10:52 WIB
Hacker di Indonesia bobol puluhan ribu data pemohon bansos AS, raup hampir setengah miliar rupiah
Foto: BBC Magazine
Jakarta -

Amerika Serikat (AS) mengaitkan peretas atau hacker Korea Utara (Korut) di balik pencurian kripto besar-besaran bulan lalu senilai US$ 615 juta atau setara Rp 8,8 triliun (kurs Rp 14.300) dari pemain game online, Axie Infinity.

Dilansir dari BBC, Senin (18/4/2022), pemain dapat memperoleh kripto melalui permainan game atau memperdagangkan avatar mereka. Peretasan itu disebut salah satu terbesar yang pernah menghantam dunia kripto.

Para pejabat AS mengaitkan pelanggaran itu dengan kelompok yang disebut "Lazarus", yang diyakini dikendalikan oleh biro intelijen utama Korut.

"Melalui penyelidikan kami, kami dapat mengkonfirmasi Lazarus Group dan APT38, pelaku cyber yang terkait dengan (Korea Utara), bertanggung jawab atas pencurian itu," kata FBI dalam sebuah pernyataan.

Lazarus Group menjadi terkenal pada 2014 setelah mereka dituduh meretas Sony Pictures dan membocorkan data rahasia ke publik.

Kelompok tersebut menuntut agar Sony menarik film The Interview, sebuah komedi satir yang dibintangi Seth Rogen dan James Franco, tentang rencana untuk membunuh pemimpin Korut Kim Jong-un.

Sebuah panel PBB yang memantau sanksi terhadap Korut menuduh Pyongyang menggunakan dana curian untuk mendukung program nuklir dan rudal balistiknya sebagai cara untuk menghindari sanksi Internasional.

"Amerika Serikat sadar bahwa Korea Utara semakin mengandalkan kegiatan terlarang, termasuk kejahatan dunia maya untuk menghasilkan pendapatan untuk senjata pemusnah massal dan program rudal balistiknya saat mencoba menghindari sanksi AS dan PBB yang kuat," kata Juru Bicara Departemen Keuangan.

Sebuah laporan militer AS tahun 2020 mengatakan program peretasan Korut dimulai setidaknya pada pertengahan 1990-an dan telah berkembang menjadi unit perang siber berkekuatan 6.000 orang, yang dikenal sebagai Bureau 121, yang beroperasi dari beberapa negara termasuk Belarus, Cina, India, Malaysia dan Rusia.

Perusahaan analisis Blockchain Chainalysis mengatakan peretas Korut mencuri hampir US$ 400 juta aset digital dalam setidaknya tujuh serangan pada platform cryptocurrency di 2021.

(aid/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT