ADVERTISEMENT

Gagal Bayar Utang, 2 Bandar Kripto 'Hilang' Bak Ditelan Bumi

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 13 Jul 2022 10:39 WIB
Ilustrasi Kripto
Ilustrasi/Foto: Dok. Shutterstock
Jakarta -

Perusahaan investasi kripto, Three Arrows Capital (3AC) sedang dalam proses likuidasi setelah gagal bayar utang US$ 670 juta atau Rp 9,91 triliun (kurs Rp 14.800). Kini dua pendirinya menghilang bagai ditelan bumi.

Menurut dokumen pengadilan, pengacara yang mewakili kreditur mengatakan dua pendiri 3AC yakni Su Zhu dan Kyle Davies tidak diketahui keberadaannya. Petugas juga melaporkan tidak ada kerja sama yang berarti dari keduanya.

"Keberadaan fisik Zhu Su dan Kyle Davies tidak diketahui menjelang sidang yang dijadwalkan pada pukul 9 pagi ET pada Selasa (12/7) untuk membahas langkah selanjutnya dalam proses likuidasi," kata pengacara yang mewakili kreditur dikutip dari CNBC, Rabu (13/7/2022).

3AC yang berbasis di Singapura mengelola aset US$ 10 miliar pada Maret 2022. Pada 1 Juli 2022, pihaknya mengajukan kondisi bangkrut berdasarkan "Chapter 15" di Amerika Serikat (AS) pada awal bulan ini.

Berita bangkrutnya 3AC muncul setelah perusahaan investasi tersebut menyatakan gagal bayar atas utang Rp 9,9 triliun dari broker kripto Voyager Digital. Voyager Digital juga telah menyatakan bangkrut. 3AC juga dilaporkan gagal untuk membayar utang US$ 270 juta ke bursa kripto Blockchain.com.

Russel Crumpler dan Chrisopher Farmer, dua direktur senior di Teneo, perusahaan yang ditugaskan mengawal proses likuidasi 3AC menyatakan tidak bisa menghubungi Zhu dan Davies.

Mereka mengaku melakukan panggilan video melalui Zoom dengan orang yang mengaku bernama Zhu' dan Davies, tetapi kedua orang tersebut tidak mengaktifkan video dan selalu berada dalam mode mute meski ada pertanyaan yang diajukan langsung kepada mereka.

Farmer juga mengaku telah berusaha menyambangi kantor 3AC di Singapura. Sayangnya pintu terkunci dengan setumpuk surat belum dibuka di celah bawahnya.

Crumpler dan Farmer mengklaim ada risiko besar keduanya berusaha memindahkan dana milik perusahaan. "Risiko makin tinggi karena sebagian besar dari aset debitur terdiri dari dana tunai dan aset digital, seperti aset kripto dan NFT, yang sangat mudah dipindahkan," tulis mereka dalam dokumen pengadilan.

(aid/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT