Dolar AS Makin Kuat, Kripto Berdarah-darah

ADVERTISEMENT

Dolar AS Makin Kuat, Kripto Berdarah-darah

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 11 Nov 2022 09:24 WIB
Ilustrasi Kripto
Foto: Dok. Shutterstock
Jakarta -

Dunia kripto saat ini sedang tidak baik-baik saja. Apalagi kondisi FTX dan Binance yang memanas memberikan tambahan berita buruk untuk para investor bitcoin, ethereum dan aset digital lainnya.

Dikutip dari CNN disebutkan saat ini harga bitcoin bertengger di posisi US$ 16.500 atau turun dari US$ 20.000 dalam jangka waktu satu minggu. Penurunan ini memang terus terjadi sejak akhir 2021, saat itu harga bitcoin berada di posisi US$ 46.000 per keping.

Kala itu investor berekspetasi kenaikan suku bunga dan angka inflasi yang tinggi bisa menjadikan kripto dan emas sebagai alternatif untuk berinvestasi. Namun, hal itu tak terbukti. Kenaikan suku bunga dan ancaman resesi tetap menekan harga instrumen investasi.

Harga emas sepanjang tahun ini sudah turun 6%, nyaris menyentuh posisi terendah seperti sejak awal COVID-19 pada 2020.

Menguatnya dolar AS membuat logam mulia dan kripto mengalami kerugian. Beberapa ahli mengharapkan kondisi buruk ini bisa segera berakhir. Sehingga bitcoin dan cryptocurrency lainnya bisa segera membaik.

Memang harga bitcoin ini dalam beberapa waktu lalu bergerak sangat fluktuatif. Pergerakan harga ini dinilai lebih baik dibandingkan dengan indeks harga saham di pasar utama.

Pada musim panas 2020 harga bitcoin naik lebih dari 80%. Jika dibandingkan dengan Nasdaq harganya hanya naik 1% sejak Juli 2020.

Head of Investment Arca, Jeff Dorman mengungkapkan naik turunnya harga bitcoin dan ethereum sudah memberikan keuntungan dari pertengahan 2020. "Aset digital masih lebih unggul dari saham teknologi," jelas dia dikutip dari CNN, Jumat (11/11/2022).

Kepala Penelitian Aset Digital di BTIG Mark Palmer mengungkapkan jika masalah yang terjadi di FTX ini membebani sektor kripto.

Harga Emas Belum Berkilau

Menguatnya dolar AS ini juga membuat harga emas makin lemah. Head of Market Strategy World Gold Council Joe Cavatoni menjelaskan jika kebijakan moneter di AS menjadi kekuatan yang dominan.

Dia menyebut pelemahan harga emas tahun ini disebabkan oleh respon pasar yang taktis terhadap kenaikan suku bunga Fed yang terus menerus dan lonjakan dolar AS dari investor perusahaan besar.

Head of Investment Crossmark Global Investments Bob Doll menyebutkan uang cash masih menjadi raja.

(kil/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT