Otoritas Jasa Keuangan (OJK) buka-bukaan soal penyebab rontoknya sejumlah aset digital kripto global usai mencetak harga tertinggi sepanjang sejarah tahun lalu. Diketahui, aset utama kripto seperti Bitcoin (BTC) sempat lebih dari US$ 120.000 atau sekitar Rp 2 miliar (asumsi kurs Rp 17.037) pertengahan tahun lalu.
Kemudian saat ini, harga Bitcoin anjlok ke level US$ 69.140 atau sekitar Rp 1,17 miliar. Penurunan signifikan harga Bitcoin ini terjadi imbas rentetan konflik geopolitik yang terjadi beberapa bulan terakhir.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, bahkan menyebut penurunan harga ini turut berdampak terkoreksinya transaksi kripto. Transaksi kripto di Indonesia sendiri turun sekitar 16,9% per Februari 2026, menjadi Rp 24,33 triliun dari Rp 29,28 triliun pada bulan sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Peningkatan ketegangan geopolitik ini termasuk eskalasi perang dagang di Amerika dan China serta konflik di Timur Tengah, ini mendorong peningkatan risk-off, sentimen di pasar keuangan global," ungkap Adi dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner secara virtual, Senin (6/4/2026).
Selain itu, Adi juga menyebut turunnya harga aset kripto terjadi imbas ketatnya kebijakan moneter dan fiskal di Amerika Serikat (AS). Kondisi ini memicu aksi likuidasi di pasar kripto secara besar-besaran.
"Pengetatan kebijakan moneter suku bunga tinggi di Amerika Serikat yang mempengaruhi likuiditas global, juga telah memicu likuidasi besar-besaran pada posisi leverage di pasar kripto. Hal ini tentunya menekan volume transaksi," jelasnya.
Adi menambahkan, saat ini pasar kripto berada pada siklus konsolidasi besar-besaran usai menyentuh titik tertinggi di tahun 2025. Hal ini tercermin dari turunnya transaksi dan harga sejumlah aset utama kripto.
"Hal ini tercermin dari aspek global yang tadi saya sampaikan dan tadi market cap kripto turun sekitar 45% dari all time high-nya di sekitar US$ 4,2 triliun di tahun 2025 akhir ya, Oktober. Dan menjadi sekitar US$ 2,3 triliun di Maret 2026 yang lalu," pungkasnya.
Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap hari ini, altcoin seperti Ether (ETH) juga diketahui sempat mencapai puncak harganya lebih dari US$ 4.700 atau sekitar Rp 80 juta. Kemudian saat ini, harga Ether turun menjadi US$ 2.134 atau sekitar Rp 36,36 juta.
Saksikan Live DetikSore :











































