Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tren penurunan nilai transaksi aset keuangan digital (AKD) dan aset kripto (AK) di Indonesia sepanjang lima tahun terakhir. Kondisi ini mencerminkan tingginya volatilitas pasar kripto kendati tren adopsinya tercatat mengalami peningkatan.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, menjelaskan transaksi AKD AK di Indonesia sempat mencapai level tertingginya pada tahun 2021 sebesar Rp 859,4 triliun. Kemudian menyusut tajam pada tahun 2022 menjadi sebesar Rp 306,4 triliun.
Tren penurunan juga terjadi pada tahun 2023, dengan nilai transaksi hanya sebesar Rp 149,25 triliun. Kemudian pada tahun 2024, transaksi aset digital ini kembali naik menjadi Rp 650,61 triliun. Sementara tahun lalu, tren transaksi kripto kembali turun 25,9% atau sekitar Rp 168,23 triliun menjadi Rp 482,23 triliun pada tahun 2025.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, nilai transaksi kripto di Indonesia menunjukkan dinamika fluktuatif. Dengan tren adopsi yang meningkat, ini menarik. Contohnya pada tahun 2025 nilai transaksi terkata Rp 482,23 triliun. Ini menurun sekitar Rp 168,38 triliun atau 25,9% dibanding tahun 2024," ungkap Adi dalam acara Bulan Literasi Kripto di The Dome, Senayan, Jakarta, Selasa (4/7/2026).
Baca juga: Aset Kripto Babak Belur, Ini Biang Keroknya |
Adi mengatakan, penurunan transaksi ini dipicu oleh faktor domestik dan global. Dari sisi global, kekhawatiran investor kripto meningkat seiring dengan panasnya ketegangan geopolitik, termasuk eskalasi perang Amerika Serikat (AS) dan Iran hingga ketatnya kebijakan moneter di sejumlah bank sentral.
"Kondisi ini diperkuat juga oleh pengetatan kebijakan moneter suku bunga tinggi di Amerika Serikat dan kecenderungan mengurangi likuiditas di tingkat global, serta tentunya ini memicu likuidasi besar-besaran pada posisi leverage di pasar kripto," terangnya.
Sementara dari sisi teknikal, tekanan pasar kripto juga terjadi seiring dengan sentimen siklus empat tahunan pada token utama, yakni Bitcoin Halving. Akumulasi sentimen tersebut yang menyebabkan turunnya transaksi di domestik dan melemahnya harga secara global.
"Jadi ada market halving, ini tentunya menunjukkan fenomena betapa fluktuasi harga dan kaitannya dengan ekonomi global dan bahkan ekonomi domestik. Itu, barangkali Bapak-Ibu sekalian belum menyadari tanda kaitannya," jelasnya.
Adi menambahkan, pelaku industri kripto perlu mencermati sentimen pasar yang ada. Menurutnya, penurunan angka harga dan transaksi ini menjadi momentum bagi seluruh pelaku industri kripto untuk kembali pada fundamental.
"Saya mendorong bahwa kita semua bisa melihat harga ini dengan seksama, dari cerminan harga global, market cap yang turun sekitar 45% dari all-time high sekitar Rp 4,2 triliun di bulan Oktober 2025 menjadi sekitar Rp 2,3 triliun pada bulan Maret 2026. Ini apa yang sedang terjadi dan tengah terjadi. Jadi saya ingin menyeimbangkan antara A dan B. A itu adalah tantangan, B-nya peluang," pungkasnya.
Saksikan Live DetikSore :
Simak juga Video 'Belajar dari Gegernya Dugaan Penipuan Trading Timothy Ronald, Kita Bisa Apa?':
(acd/acd)










































