Minat investor institusi ke aset kripto, khususnya Ethereum, terus meningkat. Hal ini terlihat dari lonjakan dana masuk ke produk ETF Ethereum dalam beberapa waktu terakhir.
Salah satu sesi perdagangan bahkan mencatat arus masuk (inflow) sebesar US$127,4 juta atau sekitar Rp 2 triliun (asumsi kurs Rp 15.700). Produk dari Fidelity (FETH) dan BlackRock (ETHA) menjadi penyumbang terbesar, masing-masing mencatat dana masuk US$84,1 juta dan US$30,8 juta.
Masuknya dana ini menandakan Ethereum semakin diterima sebagai instrumen investasi oleh investor besar. Akses yang makin luas lewat ETF dan platform broker juga ikut mendorong permintaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengamat kripto Indonesia Isybel Harto melihat tren ini mengubah cara investor memandang aset digital. Menurutnya, investor kini tidak hanya mengejar kenaikan harga.
"Masuknya institusi melalui ETF memang memperkuat narasi jangka panjang Ethereum. Tapi di sisi lain, investor mulai berpikir lebih dalam-tidak hanya soal kenaikan harga, tapi bagaimana aset tersebut bisa menghasilkan secara konsisten," ujarnya.
Ia menilai volatilitas pasar membuat investor lebih selektif dalam menentukan strategi.
"Sekarang investor lebih rasional. Mereka mulai mencari keseimbangan antara potensi capital gain dan income. Namun tetap harus dipahami, setiap instrumen punya risiko dan tidak ada imbal hasil tanpa trade-off," jelasnya.
Seiring tren tersebut, muncul pendekatan investasi berbasis pendapatan (income) di pasar kripto. Salah satunya dikembangkan oleh platform seperti Varntix, yang menawarkan skema pendapatan terstruktur berbasis aset digital.
Varntix disebut telah menghimpun dana sekitar US$20 juta dalam putaran privat, mencerminkan minat terhadap instrumen kripto dengan imbal hasil lebih stabil.
Model ini menawarkan dua pilihan, yakni skema tetap dan fleksibel. Pada skema tetap, dana dikunci dalam periode tertentu dengan imbal hasil hingga sekitar 24% per tahun. Sementara skema fleksibel memberi likuiditas lebih tinggi dengan imbal hasil yang menyesuaikan.
Imbal hasil umumnya dibayarkan dalam stablecoin seperti USDT atau USDC, sehingga nilainya lebih stabil dibanding aset kripto yang fluktuatif.
Sebagai gambaran, investasi US$12.000 dengan imbal hasil 20% per tahun bisa menghasilkan sekitar US$2.400 dalam setahun, di luar pergerakan harga pasar.
Di sisi lain, pengelolaan dana dilakukan dengan pendekatan diversifikasi ke berbagai aset dan strategi untuk menekan risiko.
Tren ini menunjukkan pasar kripto mulai bergeser. Tidak hanya mengejar kenaikan harga, investor kini juga mencari sumber pendapatan yang lebih stabil dari aset digital.
(fdl/fdl)










































