Sandiaga Uno cs Soroti Potensi AI di Dunia Usaha Tanah Air

Sandiaga Uno cs Soroti Potensi AI di Dunia Usaha Tanah Air

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Sabtu, 13 Jun 2026 17:30 WIB
Ilustrasi kecerdasan buatan
Ilustrasi/Foto: Getty Images/CHOLTICHA KRANJUMNONG
Jakarta -

Perkembangan teknologi khususnya Artificial Intelligence atau AI, perubahan perilaku konsumen, dinamika pasar, hingga ketidakpastian geopolitik dan regulasi kini menjadi penting untuk diketahui para pemimpin usaha Tanah Air. Selain menjadi tantangan, berbagai kondisi ini turut membawa peluang baru bagi pelaku pasar.

Pengusaha sekaligus mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno mengatakan peluang bisnis selalu hadir bahkan saat kondisi ekonomi sedang menghadapi tantangan. Menurutnya sektor-sektor seperti ekonomi digital berbasis kecerdasan buatan (AI), green economy, serta wellness economy menunjukkan potensi pertumbuhan yang menjanjikan ke depan.

"Kesempatan itu ada di setiap tikungan. Saat ekonomi ada penurunan, pasti ada opportunity. Ke depan mungkin di bidang AI dan digital economy, green economy, serta wellness economy," kata Sandiaga dalam diskusi CORIM+ Conversation dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu (13/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemampuan menangkap peluang tersebut tidak lagi dapat mengandalkan pendekatan bisnis konvensional semata, sehingga perlu adanya kolaborasi antar pelaku usaha untuk memaksimalkan potensi ekonomi tersebut.

ADVERTISEMENT

"Tapi yang dibutuhkan sekarang adalah innovation dan collaboration. Pola old economy sudah tidak bisa lagi. Saya tidak ingin kita punya 64 juta UMKM yang berjuang sendiri-sendiri. Kita harus membuka ruang yang lebih besar untuk kolaborasi," ujarnya lagi.

Sementara itu, Managing Director & Senior Partner Boston Consulting Group (BCG) Edwin Utama menyoroti perkembangan kecerdasan buatan yang berlangsung lebih cepat dibandingkan gelombang teknologi sebelumnya. Berdasarkan survei Boston Consulting Group terhadap 12.000 pekerja, mayoritas responden telah memanfaatkan AI dalam aktivitas kerja sehari-hari.

Menurutnya tantangan terbesar saat ini bukan sekadar meningkatkan produktivitas individu, melainkan mengubahnya menjadi produktivitas organisasi secara menyeluruh. Ia menyebut AI sebaiknya dipandang sebagai Amplified Intelligence yang memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikannya.

"Sebagai pemimpin perusahaan, kita harus mulai berbicara mengenai strategi AI hari ini dan menentukan peran mana yang akan diperkuat oleh manusia, serta peran mana yang akan diperkuat oleh AI," kata Edwin dalam diskusi yang sama.

Lebih lanjut CEO Corim Group, Mikhael Lalwani, menekankan pentingnya membangun organisasi yang adaptif, proaktif, dan responsif terhadap perubahan. Ia juga mengingatkan bahwa komunikasi yang efektif menjadi elemen penting dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis.

"Kita tidak bisa selalu memprediksi apa yang akan terjadi ke depan. Karena itu perusahaan harus memiliki framework yang jelas agar organisasinya mampu menjadi adaptive, proactive, dan responsive terhadap berbagai perubahan dan tantangan. Yang tidak kalah penting adalah memastikan komunikasi berjalan dengan baik dari level pimpinan hingga seluruh organisasi, karena sering kali tantangan terbesar muncul ketika informasi tidak tersampaikan secara efektif," paparnya.

Sebagai informasi, diskusi ini diselenggarakan sebagai bagian dari CORIM+ Society 2026, sebuah platform networking yang mempertemukan para pemimpin bisnis, investor, entrepreneur, dan pengambil keputusan dari berbagai industri.

CORIM+ Society tahun ini mempertemukan para pemimpin dan profesional dari berbagai sektor strategis, mulai dari jasa keuangan, infrastruktur, manufaktur, pertambangan, energi terbarukan, teknologi, transportasi dan logistik, kesehatan, retail dan consumer goods, legal advisory, hingga media dan komunikasi.

Selain menghadirkan diskusi strategis, acara ini juga memberikan ruang bagi para peserta untuk membangun koneksi dengan sesama pemimpin bisnis, bertukar perspektif mengenai tantangan dan peluang yang dihadapi industri masing-masing, serta mengeksplorasi potensi kolaborasi yang dapat berkembang menjadi peluang bisnis di masa depan.

(igo/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads