Israel Serang Lebanon, Bitcoin Langsung Tertekan

Israel Serang Lebanon, Bitcoin Langsung Tertekan

Andi Hidayat - detikFinance
Minggu, 21 Jun 2026 09:15 WIB
Ilustrasi bitcoin
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Meningkatnya ketegangan antara Israel dan Lebanon memberi tekanan terhadap harga token utama aset kripto. Sejumlah aset digital tercatat melemah usai tensi konflik kedua negara tersebut meningkat.

Pada perdagangan Jumat (19/6), harga bitcoin sempat turun hampir 5% secara intraday ke sekitar US$ 62.601 atau sekitar Rp 1,11 miliar (asumsi kurs Rp 17.826). Namun, harga bitcoin kembali naik menjadi US$ 63.628 atau menguat sekitar 1,65% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir.

Kemudian berdasarkan data CoinGlass, total likuidasi di pasar kripto pada perdagangan Jumat sempat menyentuh sekitar US$ 579,43 juta. Dari jumlah tersebut, posisi long mendominasi dengan nilai likuidasi sekitar US$ 496,62 juta, sementara posisi short mencapai US$ 82,81 juta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tokokrypto mencatat ada lebih dari 139.000 trader tercatat terdampak dalam periode yang sama. Bitcoin menjadi aset dengan nilai likuidasi terbesar, yakni sekitar US$ 191,49 juta. Ethereum menyusul dengan likuidasi sekitar US$ 135,46 juta.

Sejumlah aset kripto lain seperti HYPE, XRP, SOL, dan ADA juga mengalami tekanan signifikan. Tokocrypto menilai kondisi pasar saat itu mencerminkan kehati-hatian investor terhadap aset berisiko ketika tensi geopolitik kembali memanas.

ADVERTISEMENT

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai tekanan jual tidak hanya dipicu oleh sentimen makro, tetapi juga diperparah oleh posisi leverage yang terlalu padat di pasar derivatif.

"Ketika konflik geopolitik meningkat, investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk kripto. Dalam kondisi seperti ini, posisi leverage yang menumpuk dapat mempercepat penurunan harga karena likuidasi berantai memicu tekanan jual tambahan," ujar Fyqieh dalam keterangan tertulisnya, dikutip Minggu (21/6/2026).

Ia menambahkan, area US$ 60.000 saat ini menjadi level psikologis penting bagi bitcoin. Selama area tersebut mampu dipertahankan, peluang konsolidasi masih terbuka.

Namun, jika tekanan jual berlanjut dan bitcoin gagal bertahan di atas level tersebut, pasar berisiko memasuki fase koreksi yang lebih dalam. Hal tersebut terjadi imbas ketegangan di Timur Tengah memicu meningkatnya volatilitas pasar.

Dari sisi teknikal, bitcoin saat ini berada di area krusial US$ 64.000 hingga US$ 66.000. Jika mampu kembali menembus zona tersebut, peluang pemulihan menuju area resistensi US$ 74.000 hingga US$ 76.000 dapat terbuka.

Sebaliknya, penolakan di area ini berpotensi membuat Bitcoin bergerak terbatas di rentang US$ 60.000 hingga US$ 65.000. Meski demikian, beberapa indikator menunjukkan upaya pembentukan dasar harga di sekitar US$ 60.000.

Likuiditas beli di order book spot disebut mulai meningkat, menandakan sebagian pelaku pasar bersiap menyerap tekanan jual di level bawah. Namun, Fyqieh menilai investor perlu tetap disiplin dalam mengelola risiko di tengah pasar yang masih sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan arus likuidasi.

"Volatilitas dalam beberapa hari ke depan kemungkinan masih tinggi. Investor sebaiknya tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya karena harga terlihat murah. Manajemen risiko, penggunaan leverage yang konservatif, dan pemantauan level support utama menjadi sangat penting dalam kondisi pasar seperti saat ini," terangnya.

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads