Yess !! Ekonomi Dunia Lesu, di Sini Justru Bergairah

Yess !! Ekonomi Dunia Lesu, di Sini Justru Bergairah

Jhoni Hutapea - detikFinance
Jumat, 09 Mar 2012 06:35 WIB

Jakarta - Para pekerja tengah menyelesaikan proyek properti di kawasan Rasuna Said, Jakarta, Kamis (8/3). Dewan Gubernur Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi domestik tumbuh 6,5 persen hingga akhir Maret. Pertumbuhan tidak terpengaruh isu kenaikan harga Bahan Bakar Minya (BBM) ataupun kelesuan ekonomi dunia.

Perekonomian domestik masih menguat menunjukkan kinerja kuat di tengah pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat dan diperkirakan pada triwulan I/2012 perekonomian domestik tumbuh 6,5 persen.
"Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2012 diperkirakan mencapai 6,5 persen dan akan berlanjut pada triwulan II-2012 meskipun tidak setinggi pertumbuhan pada triwulan I-2012," kata Kepala Biro Humas Bank Indonesia Difi A Johansyah kepada wartawan.
Pertumbuhan ekonomi itu didukung oleh masih kuatnya permintaan domestik, khususnya konsumsi rumah tangga dan investasi. Sementara itu, pertumbuhan ekspor diperkirakan melambat seiring dengan perlambatan ekonomi global dan penurunan harga komoditas global non-energi.
Perkembangan ekonomi pada triwulan I dan II tersebut masih sejalan dengan prakiraan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 6,3 persen - 6,7 persen untuk keseluruhan tahun 2012.
Penimbangan risiko menunjukkan pertumbuhan cenderung bias ke bawah baik karena dampak perekonomian global maupun rencana kebijakan Pemerintah di bidang energi, apabila tidak ditempuh langkah-langkah stimulus khususnya dari kebijakan fiskal di samping dari kebijakan moneter dan perbankan.
Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan I-2012 diperkirakan akan mencatat surplus yang lebih kecil sejalan dengan defisit transaksi berjalan pada triwulan I-2012 yang diperkirakan membesar seiring dengan melambatnya ekspor di tengah impor yang masih tetap tinggi seiring dengan aktivitas ekonomi domestik yang kuat dan tingginya konsumsi BBM.
Sementara itu, surplus transaksi modal dan keuangan mengalami penurunan karena arus masuk investasi portofolio yang lebih rendah. Dengan perkembangan tersebut, cadangan devisa sampai dengan akhir Februari 2012 mencapai 112,2 miliar dolar AS, atau setara dengan 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.
Pergerakan nilai tukar rupiah relatif stabil meskipun sedikit mengalami tekanan. Selama Februari 2012, rupiah secara point-to-point melemah sebesar 0,33 persen (mtm) ke level Rp9.020 per dolar AS, namun secara rata-rata menguat 0,69 persen (mtm) menjadi Rp8.998 per dolar AS.
Beberapa faktor yang menyebabkan tekanan terhadap Rupiah antara lain berasal dari penyesuaian portofolio investor asing akibat sentimen global dan meningkatnya kebutuhan impor sejalan dengan kuatnya aktivitas ekonomi domestik.
Untuk menjaga keseimbangan pasar domestik, Bank Indonesia terus memonitor dan menempuh langkah stabilisasi nilai tukar rupiah baik melalui pasar valas maupun pasar sekunder SBN.
Sementara itu, stabilitas sistem perbankan tetap terjaga dan disertai dengan fungsi intermediasi yang semakin baik terlihat dari kinerja yang semakin solid sebagaimana tercermin pada tingginya rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) yang berada jauh di atas minimum 8 persen dan terjaganya rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross di bawah 5 persen.
Yess !! Ekonomi Dunia Lesu, di Sini Justru Bergairah
Yess !! Ekonomi Dunia Lesu, di Sini Justru Bergairah
Yess !! Ekonomi Dunia Lesu, di Sini Justru Bergairah
Yess !! Ekonomi Dunia Lesu, di Sini Justru Bergairah
Yess !! Ekonomi Dunia Lesu, di Sini Justru Bergairah
Yess !! Ekonomi Dunia Lesu, di Sini Justru Bergairah
Yess !! Ekonomi Dunia Lesu, di Sini Justru Bergairah
Yess !! Ekonomi Dunia Lesu, di Sini Justru Bergairah
Yess !! Ekonomi Dunia Lesu, di Sini Justru Bergairah
Yess !! Ekonomi Dunia Lesu, di Sini Justru Bergairah
Yess !! Ekonomi Dunia Lesu, di Sini Justru Bergairah
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads