Picture Story

Melihat Lebih Dekat Pembuatan Garam Langka Khas Grobogan

Antara Foto/Yusuf Nugroho - detikFinance
Kamis, 25 Jul 2019 11:23 WIB

Grobogan - Jika biasanya garam diolah dari air laut, warga Desa Jono, Grobogan, Jawa Tengah, justru mengolah garam dari air sumur yang jauh dari laut. Penasaran?

Warga di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, punya cara unik nan langka dalam mengolah garam.

Jika biasanya garam diolah dari air laut, di Desa Jono yang berada di Grobogan ini, warga menggunakan air sumur yang jauh dari laut untuk menjadi bahan baku utama membuat garam.

Sumur tersebut memiliki sumber air asin yang tak pernah mengering meskipun musim kemarau.

Selain itu, menurut warga, rasa garam yang mereka olah dari air sumur itu memiliki rasa yang lebih gurih dibandingkan dengan garam laut.

Menurut warga, tambak garam di Desa Jono ini telah ada sejak jaman kolonial Belanda.

Di tahun 1970-an, jumlah petani garam di area tambak seluas tiga hektare itu mencapai ratusan orang.

Proses pembuatan garam ini dimulai dari menimba air sumur sedalam 25 meter.

Air sumur tersebut kemudian disalurkan melalui pipa-pipa yang terhubung ke penampungan. Dari penampungan itu, para petani garam kemudian memindahkan air ke bilahan bambu yang disebut warga 'klakah'.

Setelah bilahan bambu tersebut diisi air, para petani garam akan menjemurnya di bawah terik matahari hingga mengkristal berbentuk garam sebelum akhirnya dipanen.

Proses pembuatan garam ini pun dapat dikatakan cukup bergantung dengan kondisi cuaca di daerah tersebut. Pasalnya jika cuaca dalam kondisi terik, proses pembuatan garam tersebut cukup menghabiskan waktu selama 10 hari. Sedangkan saat cuaca mendung, proses pembuatan garam langka itu memakan waktu hingga 15 hari.

Seiring berjalannya waktu, masa kejayaan tambak garam langka di Grobogan ini mulai tenggelam. Kini, jumlah petani garam di sana hanya tersisa puluhan. Kebanyakan warga terpaksa meninggalkan profesi mereka karena hasil yang didapatkan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tak sedikit pula warga yang akhirnya memilih pekerjaan lain karena tak adanya regenerasi.

Selain itu, kini hanya tersisa enam sumur dan kondisinya mengalami pendangkalan dan penyempitan. Hal itu membuat para petani garam di Desa Jono khawatir sumur-sumur tersebut ambrol. Mereka berharap pemerintah dapat memberikan perhatian akan keberadaan tambak garam unik nan langka tersebut, agar produksi garam Jono tetap berjalan dan regenerasi tidak terputus.

Melihat Lebih Dekat Pembuatan Garam Langka Khas Grobogan
Melihat Lebih Dekat Pembuatan Garam Langka Khas Grobogan
Melihat Lebih Dekat Pembuatan Garam Langka Khas Grobogan
Melihat Lebih Dekat Pembuatan Garam Langka Khas Grobogan
Melihat Lebih Dekat Pembuatan Garam Langka Khas Grobogan
Melihat Lebih Dekat Pembuatan Garam Langka Khas Grobogan
Melihat Lebih Dekat Pembuatan Garam Langka Khas Grobogan
Melihat Lebih Dekat Pembuatan Garam Langka Khas Grobogan
Melihat Lebih Dekat Pembuatan Garam Langka Khas Grobogan
Melihat Lebih Dekat Pembuatan Garam Langka Khas Grobogan
Melihat Lebih Dekat Pembuatan Garam Langka Khas Grobogan
Melihat Lebih Dekat Pembuatan Garam Langka Khas Grobogan