Picture Story

Potret Kampung Patin di Riau

FB Anggoro/AntaraFoto - detikFinance
Selasa, 29 Sep 2020 13:17 WIB

Riau - Sebuah desa Bernama Koto Masjid di Kabupaten Kampar dikenal dengan sebutan 'Kampung Patin'. Desa ini menjadi sentra ikan patin terintegrasi di Provinsi Riau.

Warga menunjukan ikan patin asap, yang populer disebut ikan salai di Kampung Patin, Desa Koto Masjid, Kampar, Riau.
Di Kampung Patin ada slogan tiada rumah tanpa kolam ikan.
Warga menunjukan ikan patin asap, yang populer disebut ikan salai di Kampung Patin, Desa Koto Masjid, Kampar, Riau.
Budidaya perikanan ikan tawar mulai dikembangkan di sana sejak 2002. Luas areal perkolaman di Kampung Patin kini mencapai 150 hektare, yang mayoritas dikelola warga setempat, dan setiap hektare bisa terdiri dari delapan kolam.
Warga menunjukan ikan patin asap, yang populer disebut ikan salai di Kampung Patin, Desa Koto Masjid, Kampar, Riau.
Dalam sehari warga setempat bisa memanen 12 hingga 15 ton ikan segar, sehingga jumlah panen rata-rata mencapai 360 sampai 450 ton dalam sebulan.
Warga menunjukan ikan patin asap, yang populer disebut ikan salai di Kampung Patin, Desa Koto Masjid, Kampar, Riau.
Ikan Patin segar dijual Rp14.500 per kilogram untuk memenuhi kebutuhan pasar di Riau, Sumatera Barat dan Sumatera Utara.
Warga menunjukan ikan patin asap, yang populer disebut ikan salai di Kampung Patin, Desa Koto Masjid, Kampar, Riau.
Selain itu, Kampung Patin juga merupakan contoh nyata keberhasilan pertanian ikan air tawar dari hulu hingga hilir. Sebabnya, warga berhasil menerapkan teknologi dan diversifikasi produk akhirnya.
Warga menunjukan ikan patin asap, yang populer disebut ikan salai di Kampung Patin, Desa Koto Masjid, Kampar, Riau.
Di sektor hulu, mereka membuat pakan sendiri, dan menerapkan pembuahan buatan dengan mengambil sperma dan telur dari induk ikan. Dengan begitu, tingkat keberhasilan pembuahan lebih tinggi ketimbang pembuahan alami. Telur yang sudah dibuahi ditempatkan di corong penetasan yang bisa menghasilkan hingga 2,8 juta larva patin dalam sebulan.
Warga menunjukan ikan patin asap, yang populer disebut ikan salai di Kampung Patin, Desa Koto Masjid, Kampar, Riau.
Dampak pandemi COVID-19 tidak mempengaruhi bisnis di sentra ikan patin tersebut, karena permintaan produk olahan berupa ikan asap relatif stabil.
Warga menunjukan ikan patin asap, yang populer disebut ikan salai di Kampung Patin, Desa Koto Masjid, Kampar, Riau.
Ikan salai, yang diproduksi dengan proses pengasapan, bisa menyerap bahan baku ikan patin segar sekitar 240 ton dalam sebulan.
Warga menunjukan ikan patin asap, yang populer disebut ikan salai di Kampung Patin, Desa Koto Masjid, Kampar, Riau.
Keberadaan Kampung Patin ini juga banyak menyerap tenaga kerja karena warga yang tak punya kolam juga bisa bekerja sebagai pemanen ikan, pembelah ikan dan pembuat ikan salai.
Warga menunjukan ikan patin asap, yang populer disebut ikan salai di Kampung Patin, Desa Koto Masjid, Kampar, Riau.
Di desa tersebut terdapat 10 usaha pengasapan ikan yang mampu menyerap tenaga kerja hingga 150 orang. Ikan salai masih dicari pembeli karena bisa tahan hingga berminggu-minggu dan harganya relatif murah, yakni Rp70 ribu per kilogramnya. Ikan salai ini dipasarkan di Sumatera sampai mencanegara, seperti ke Brunai Darusalam, Malaysia, dan Singapura, yang dijual lewat perdagangan lintas batas. Ikan ini kerap dibuat menjadi gulai pucuk ubi, yang merupakan kuliner khas Melayu.
Diversifikasi produk ikan patin berupa bakso, nuget, dan makanan khas gulai ikan patin salai di Kampung Patin, Desa Koto Masjid, Kampar, Riau.
Selain itu, warga di sana juga mengolah ikan patin jadi barang bahan makanan modern seperti abon, nuget dan bakso ikan.
Potret Kampung Patin di Riau
Potret Kampung Patin di Riau
Potret Kampung Patin di Riau
Potret Kampung Patin di Riau
Potret Kampung Patin di Riau
Potret Kampung Patin di Riau
Potret Kampung Patin di Riau
Potret Kampung Patin di Riau
Potret Kampung Patin di Riau
Potret Kampung Patin di Riau
Potret Kampung Patin di Riau