Foto Bisnis

Kisah Penyandang Disabilitas Perajin Tas Bertahan di Tengah Pandemi

Dian Utoro Aji - detikFinance
Senin, 16 Nov 2020 14:49 WIB

Kudus - Keterbatasan fisik tak halangi pria di Kudus ini untuk kumpulkan rezeki di masa pandemi COVID-19. Dengan kemampuannya, ia jalankan usaha kerajinan membuat tas.

Keterbatasan fisik tak halangi pria di Kudus ini untuk kumpulkan rezeki di masa pandemi COVID-19. Dengan kemampuannya, ia jalankan usaha kerajinan membuat tas.

Memiliki keterbatasan fisik tidak menjadikan rintangan bagi seorang pria di Kudus, Jawa Tengah. Di tengah pandemi virus Corona atau COVID-19, mulai bangkit dengan usaha kerajinan membuat tas yang ditekuni sejak lima tahun lalu.

Keterbatasan fisik tak halangi pria di Kudus ini untuk kumpulkan rezeki di masa pandemi COVID-19. Dengan kemampuannya, ia jalankan usaha kerajinan membuat tas.

Dia adalah Ahmad Saad (40) warga Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kudus. Pria dua anak tersebut berjuang untuk menghidupi keluarga dengan membuat tas.

Keterbatasan fisik tak halangi pria di Kudus ini untuk kumpulkan rezeki di masa pandemi COVID-19. Dengan kemampuannya, ia jalankan usaha kerajinan membuat tas.

Saat ditemui di kediamannya, Saad begitu sapaannya tengah sibuk membuat tas, Senin (16/11/2020). Terkait dengan kondisi tubuhnya, Saad mengaku kondisi kedua kaki yang tidak bisa berjalan sejak berusia tiga tahun. Pada saat itu dia mengaku jatuh dari sepeda. Kemudian mengalami panas dan dinyatakan terkena polio.

Keterbatasan fisik tak halangi pria di Kudus ini untuk kumpulkan rezeki di masa pandemi COVID-19. Dengan kemampuannya, ia jalankan usaha kerajinan membuat tas.

Kini dia berjalan menggunakan alat bantu kursi roda dan dua kruk. Sewaktu muda dia mengaku bekerja sebagai tukang jahit milik kakaknya. Dia bekerja membuat tas membantu kakaknya selama 12 tahun. Setelah itu, akhirnya pada tahun 2015 lalu memilih untuk membuka usaha sendiri membuat tas di rumahnya Desa Kesambi RT 2 RW 1, Kecamatan Mejobo. Awalnya hanya memiliki satu mesin jahit saja. Namun secara bertahap sekarang sudah memiliki dua mesin jahit dan dua karyawan.

Keterbatasan fisik tak halangi pria di Kudus ini untuk kumpulkan rezeki di masa pandemi COVID-19. Dengan kemampuannya, ia jalankan usaha kerajinan membuat tas.

Saad mengatakan prosesnya lama untuk bisa terampil membuat tas. Apalagi kondisi kedua kakinya yang tidak bisa bergerak. Namun lamban laun akhirnya dia mengaku sudah terbiasa dan usaha membuat tas sampai sekarang.  Sebelum pandemi, kata dia permintaan tas ramai. Tas yang dia jual mulai tas sekolah, tas gunung, hingga tas souvernir. Namun setelah masa pandemi terdampak, pendapatan mengalami penurunan hingga 50 persen.

Keterbatasan fisik tak halangi pria di Kudus ini untuk kumpulkan rezeki di masa pandemi COVID-19. Dengan kemampuannya, ia jalankan usaha kerajinan membuat tas.

Namun setelah adanya kebijakan new normal oleh pemerintah, Saad mengaku usahanya mulai merangkak naik lagi. Pesanan pun datang dari berbagai instansi swasta dan sejumlah daerah. Tas yang dia jual harganya bermacam. Seperti tas sekolah dijual Rp 30 ribu sampai Rp 70 ribu. Sedangkan untuk tas gunung mulai Rp 80 ribu sampai Rp 100 ribu.

Kisah Penyandang Disabilitas Perajin Tas Bertahan di Tengah Pandemi
Kisah Penyandang Disabilitas Perajin Tas Bertahan di Tengah Pandemi
Kisah Penyandang Disabilitas Perajin Tas Bertahan di Tengah Pandemi
Kisah Penyandang Disabilitas Perajin Tas Bertahan di Tengah Pandemi
Kisah Penyandang Disabilitas Perajin Tas Bertahan di Tengah Pandemi
Kisah Penyandang Disabilitas Perajin Tas Bertahan di Tengah Pandemi