Picture Story

Songket Silungkang Melintasi Zaman

ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra - detikFinance
Rabu, 17 Feb 2021 15:38 WIB

Sawahlunto - Songket Silungkang telah turun temurun dilestarikan oleh warga desa Silungkang. Menenun Songket Silungkang juga mengandung nilai-nilai kehidupan di masyarakat.

Seorang perajin memintal benang sebelum ditenun mnejadi kain Songket Silungkang.

Silungkang, sebuah nagari atau desa di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, berlokasi sekitar 79 kilometer dari Kota Padang. Mayoritas penduduk di desa ini adalah petani padi dan palawija. Dahulu hasil pertanian di desa itu dipasarkan hingga ke provinsi lain bahkan sampai ke Malaysia.  

Seorang perajin memintal benang sebelum ditenun mnejadi kain Songket Silungkang.

Sekitar abad ke-19, ketika sejumlah petani memasarkan hasil pertaniannya ke daerah Pahang, mereka tertarik pada tenun songket yang ada di sana. Saking tertariknya, mereka bawa pulang ke Silungkang dan membuat tenun songket sendiri.  

Seorang perajin memintal benang sebelum ditenun mnejadi kain Songket Silungkang.

Tenun songket awalnya merupakan seni budaya dari daratan negeri China sejak 1000 tahun yang lalu.  

Seorang perajin memintal benang sebelum ditenun mnejadi kain Songket Silungkang.

Lalu tenun Songket singgah ke Negeri Siam (Thailand), menyebar ke Semenanjung Negeri Jiran Malaysia dan Brunei Darussalam kemudian menyeberang ke Pulau Sumatera yakni ke Silungkang, Siak dan Palembang.  

Seorang perajin memintal benang sebelum ditenun mnejadi kain Songket Silungkang.

Tenun Songket Silungkang mengandung nilai-nilai kehidupan di masyarakat. Nilai-nilai itu adalah kesakralan, keindahan (seni), ketekunan, ketelitian dan kesabaran.  

Seorang perajin memintal benang sebelum ditenun mnejadi kain Songket Silungkang.

Ciri khas Songket Silungkang terletak pada corak dan motifnya. Motif Kaluak Paku, Pucuak Rabuang, Itiak Pulang Patang, Bintang, Buruang Merak, Rangkiang dan Buruang Dalam Rimbo menjadi motif yang banyak dibuat oleh perajin.  

Seorang perajin memintal benang sebelum ditenun mnejadi kain Songket Silungkang.

Pewarna songket pun diracik dari bahan alami seperti kulit pohon, kulit jengkol, daun gambir bahkan batubara.   

Seorang perajin memintal benang sebelum ditenun mnejadi kain Songket Silungkang.

Pewarna alam tersebut dianggap bisa menghasilkan songket yang berkualitas sekaligus meningkatkan harga jual. Tenunan dasar songket Silungkang biasanya berwarna merah tua, hijau tua atau biru tua.  

Seorang perajin memintal benang sebelum ditenun mnejadi kain Songket Silungkang.

Meski dibuat dengan peralatan sederhana, keindahan songket Silungkang bernilai jual sangat tinggi. Pedagang menjualnya mulai harga Rp350 ribu hingga Rp10 jutaan per helai, tergantung motif dan bahannya.  

Seorang perajin memintal benang sebelum ditenun mnejadi kain Songket Silungkang.

Pemkot Sawahlunto berupaya melestarikan tenun songket Silungkang dengan rutin menggelar Sawahlunto Internasional Songket Carnival (SISCA) setiap tahunnya dan memasukkannya ke kalender agenda nasional.  

Songket Silungkang Melintasi Zaman
Songket Silungkang Melintasi Zaman
Songket Silungkang Melintasi Zaman
Songket Silungkang Melintasi Zaman
Songket Silungkang Melintasi Zaman
Songket Silungkang Melintasi Zaman
Songket Silungkang Melintasi Zaman
Songket Silungkang Melintasi Zaman
Songket Silungkang Melintasi Zaman
Songket Silungkang Melintasi Zaman