Hadapi Risiko Iklim dan Global, Industri Sawit Diminta Lebih Antisipatif

Foto Bisnis

Hadapi Risiko Iklim dan Global, Industri Sawit Diminta Lebih Antisipatif

Agung Pambudhy - detikFinance
Kamis, 05 Feb 2026 20:34 WIB

Jakarta - Industri sawit penopang devisa RI menghadapi risiko iklim dan tuntutan global. Prasasti menekankan kebijakan preventif agar sawit tumbuh berkelanjutan ke depan

Tungkot Sipayung pakar agribisnis dan pertanian, Frans BM Dabukke tenaga ahli Menteri Bappenas dan Lupi Hartono direktur perencanaan, penghimpunan dan pengembangan dana BPDP saat berdisksi di Jakarta, Kamis (5/2/2025). 
Diskusi ini membahas paradigma baru minyak sawit : mendorong keunggulan ekonomi, menjaga keberlanjutan.
Tungkot Sipayung Pakar Agribisnis dan Pertanian, Frans BM Dabukke Tenaga Ahli Menteri Bappenas, Lupi Hartono Direktur Perencanaan, Penghimpunan, dan Pengembangan Dana BPDP saat menjadi pembicara dalam diskusi di Jakarta, Kamis (5/2/2025). Industri kelapa sawit masih menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia. Sektor ini berkontribusi signifikan terhadap devisa ekspor nonmigas dengan nilai lebih dari US$30 miliar per tahun
Tungkot Sipayung pakar agribisnis dan pertanian, Frans BM Dabukke tenaga ahli Menteri Bappenas dan Lupi Hartono direktur perencanaan, penghimpunan dan pengembangan dana BPDP saat berdisksi di Jakarta, Kamis (5/2/2025). 
Diskusi ini membahas paradigma baru minyak sawit : mendorong keunggulan ekonomi, menjaga keberlanjutan.
Di balik kontribusi tersebut, industri kelapa sawit nasional menghadapi tantangan struktural yang semakin kompleks. Meningkatnya risiko iklim, tuntutan standar keberlanjutan global, serta persoalan tata kelola dan produktivitas di tingkat tapak menuntut pendekatan kebijakan yang tidak lagi bersifat reaktif, melainkan mampu mengantisipasi risiko sejak dini dan memperkuat ketahanan industri dalam jangka panjang.
Tungkot Sipayung pakar agribisnis dan pertanian, Frans BM Dabukke tenaga ahli Menteri Bappenas dan Lupi Hartono direktur perencanaan, penghimpunan dan pengembangan dana BPDP saat berdisksi di Jakarta, Kamis (5/2/2025). 
Diskusi ini membahas paradigma baru minyak sawit : mendorong keunggulan ekonomi, menjaga keberlanjutan.
Menanggapi kondisi tersebut, Prasasti Center for Policy Studies menekankan pentingnya kebijakan yang bersifat preventif dan antisipatif sebagai fondasi penguatan industri kelapa sawit nasional.
Fuad Bawazier dewan pengawas Lembaga riset Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti)
Board of Trustees Prasasti, Fuad Bawazier, yang menilai bahwa masyarakat saat ini hidup dalam kondisi iklim yang jauh berbeda dan semakin menantang. Oleh karena itu, aspek keberlanjutan menjadi elemen yang tidak terpisahkan dalam penguatan ketahanan ekonomi dan energi nasional.
Tungkot Sipayung pakar agribisnis dan pertanian, Frans BM Dabukke tenaga ahli Menteri Bappenas dan Lupi Hartono direktur perencanaan, penghimpunan dan pengembangan dana BPDP saat berdisksi di Jakarta, Kamis (5/2/2025). 
Diskusi ini membahas paradigma baru minyak sawit : mendorong keunggulan ekonomi, menjaga keberlanjutan.
Dalam konteks ketahanan nasional, Fuad menegaskan bahwa industri kelapa sawit memiliki peran yang sangat strategis. Dengan pangsa produksi sekitar 58 persen dari total produksi global, sektor ini diperkirakan menopang hingga 16,5 juta lapangan kerja.
Hadapi Risiko Iklim dan Global, Industri Sawit Diminta Lebih Antisipatif
Hadapi Risiko Iklim dan Global, Industri Sawit Diminta Lebih Antisipatif
Hadapi Risiko Iklim dan Global, Industri Sawit Diminta Lebih Antisipatif
Hadapi Risiko Iklim dan Global, Industri Sawit Diminta Lebih Antisipatif
Hadapi Risiko Iklim dan Global, Industri Sawit Diminta Lebih Antisipatif
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads