Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar AS. Kurs dolar yang menembus Rp18.000 memicu kekhawatiran pelaku usaha dan pasar.
Foto Bisnis
Rupiah Tertekan, Dolar AS Sentuh Rp18.000
Pegawai memperlihatkan mata uang dolar AS di money changer PT Ayu Masagung, Jakarta, Kamis (4/6/2026). Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah dolar AS menembus level Rp18.000 per dolar.
Pelemahan rupiah mencerminkan tekanan terhadap perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global dan domestik. Kondisi ini membuat biaya impor berbagai kebutuhan menjadi lebih mahal.
Kenaikan kurs dolar memicu kekhawatiran pelaku usaha karena berpotensi meningkatkan biaya produksi. Jika berlanjut, tekanan tersebut dapat mendorong kenaikan harga barang dan jasa.
Di sejumlah money changer Jakarta, aktivitas penukaran valuta asing terpantau meningkat. Sebagian masyarakat dan pelaku bisnis memilih menyimpan aset dalam bentuk dolar AS.
Pelemahan rupiah hingga menyentuh Rp18.000 per dolar AS juga menjadi perhatian pasar. Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Bagi masyarakat, dampaknya dapat dirasakan melalui kenaikan harga barang impor, biaya pendidikan luar negeri, hingga ongkos perjalanan internasional. Daya beli juga berpotensi tertekan apabila inflasi meningkat.
Pengamat menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Pemerintah serta Bank Indonesia diharapkan mengambil langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan kepercayaan pasar.











































