Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 14 Sep 2018 13:18 WIB

Cerita Mendag Ada 2 Pabrik Infus Tutup Karena Dilarang Impor Garam

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Ilustrasi Infus Foto: Thinkstock Ilustrasi Infus Foto: Thinkstock
Jakarta - Impor sering menjadi topik menakutkan bagi masyarakat karena dianggap sebagai biang keladi tumbangnya industri dalam negeri.

Padahal, impor diperlukan terutama untuk bahan baku seperti garam yang diperlukan untuk bahan baku di bidang industri farmasi.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menuturkan, pernah satu ketika pemerintah melarang impor garam.

Pada masa itu, sulit sekali memperoleh garam yang sesuai spesifikasi industri farmasi lantaran tak ada impor sementara garam produksi lokal belum memenuhi syarat secara kualitas.



Akibatnya, beberapa pabrik farmasi terpaksa gulung tikar.

"Garam (lokal) untuk industri nggak bisa. Sudah ada pabrik infus gulung tikar karena nggak ada izin impor garam yang keluar," kata Enggar saat bertandang ke kantor detikcom, Jakart Sealatan, Kamis (13/9/2018).

Industri jelas tak bisa memaksakan menyerap garam yang di bawah kualifikasi lantaran produk akhir dari industri ini menyangkut kesehatan pasein yang mengkonsumsunya.

"Tolong ya yang sekarang itu dia kasih air garam untuk infus dari garam Indonesia bisa itu pasti mati dia (pasien)," imbuh Enggar.

Enggar menjelaskan ada kadar khusus untuk garam agar bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan cairan infus. Sementara garam rakyat yang bisa di produksi di dalam negeri, kondisinya di bawah standar kebutuhan industri farmasi.

"Selalu dipertentangkan, Indonesia memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Saya harus sampaikan ini, masalahnya tidak ada yang pernah membina industri garam rakyat. Kalau ada garam produksi pantai utara itu, saya orang yang pertama yang tolak impor garam," jelas dia.

Enggar menjelaskan, produktivitas garam di dalam negeri hanya sekitar 50%. Garam yang di produksi di sektaran Jawa kata Enggar sudah tidak lagi sehat, pasalnya Laut Jawa sudah berwarna coklat yang artinya air garam di laut tersebut sudah terkontaminasi.

"Tingkat produktivitas 50% dan garam itu bukan lagi coklat karena Laut Jawa sudah luar biasa terkontaminasi," papar dia.



Enggar menjelaskan, belajar dari kejadian tersebut pemerintah akhirnya dilakukan rapat tingkat menteri dengan Wakil Presiden. Kemudian akhirnya keluarlah angka untuk memenuhi kebutuhan garam industri sebesar 3,7 juta ton lewat impor.

"Sampai akhirnya kita (jajaran menteri) menghadap presiden atas usul dalam rapat saya usul untuk industri itu yang paling tepat bukan saya tapi Menperin. Karena dia yang tahu berapa besar kebutuhan industri untuk garam. Dipaparkan kebutuhan garam industri, keluarlah izin 3,7 juta ton garam industri," tandas dia. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed