Pemerintah Lobi Importir Garam Bangun Pabrik

Pemerintah Lobi Importir Garam Bangun Pabrik

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Kamis, 06 Jan 2011 14:56 WIB
Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah melobi dua investor yang selama ini menjadi importir garam terbesar di Indonesia untuk membangun pabrik di dalam negeri. Dua importir itu adalah PT Asahimas Chemicals dan PT Sulfindo Adiusaha.

Direktur Industri Hilir Kementerian Perindustrian Tony Tanduk mengatakan, selama ini dua perusahaan tersebut menjadi importir terbesar untuk garam industri. Asahimas rata-rata mengimpor 600.000 ton sementara Sulfindo 400.000 ton per tahun.

"Saya sudah tawarkan ke Asahimas salah satu pengguna garam terbesar di negeri ini," kata Tony di kantornya, Kamis (6/1/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengakui, saat ini untuk membangun pabrik garam yang representatif tak mudah karena harus mempertimbangkan kondisi dan luasan lahan yang bisa memenuhi angka keekonomian. Pasalnya, saat ini harga garam di Indonesia termasuk yang tinggi dibandingkan dengan harga garam internasional.

"Kalau harga garam petani keekonomian Rp 1.000 per kg, sementara harga dengan tata niaga Rp 325 per kg," katanya.

Ia berharap, dengan adanya upaya peningkatan produksi garam nasional melalui investasi bidang industri garam diharapkan target swasembada garam 2014 bisa tercapai.

Saat ini kata dia, pemerintah daerah Nusa Tenggara Timur bersama dengan PT Cheetham Garam Indonesia sedang mengembangkan rencana pembangunan sentra garam khususnya di wilayah Ende dan Nagekeo. Rencananya di Nagekeo akan dibangun sentra garam seluas 2.000 hektar.

Dari investasi ini diharapkan wilayah NTT bisa memberikan kontribusi tambahan produksi garam nasional sebanyak 1,3 juta ton. Rencananya Cheetam untuk tahap pertama akan menyiapkan sedikitnya US$ 15 juta.

(hen/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads