Direktur Industri Hilir Kementerian Perindustrian Tony Tanduk mengatakan, selama ini dua perusahaan tersebut menjadi importir terbesar untuk garam industri. Asahimas rata-rata mengimpor 600.000 ton sementara Sulfindo 400.000 ton per tahun.
"Saya sudah tawarkan ke Asahimas salah satu pengguna garam terbesar di negeri ini," kata Tony di kantornya, Kamis (6/1/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau harga garam petani keekonomian Rp 1.000 per kg, sementara harga dengan tata niaga Rp 325 per kg," katanya.
Ia berharap, dengan adanya upaya peningkatan produksi garam nasional melalui investasi bidang industri garam diharapkan target swasembada garam 2014 bisa tercapai.
Saat ini kata dia, pemerintah daerah Nusa Tenggara Timur bersama dengan PT Cheetham Garam Indonesia sedang mengembangkan rencana pembangunan sentra garam khususnya di wilayah Ende dan Nagekeo. Rencananya di Nagekeo akan dibangun sentra garam seluas 2.000 hektar.
Dari investasi ini diharapkan wilayah NTT bisa memberikan kontribusi tambahan produksi garam nasional sebanyak 1,3 juta ton. Rencananya Cheetam untuk tahap pertama akan menyiapkan sedikitnya US$ 15 juta.
(hen/ang)











































