"Ada tren stok gandum dunia menurun," kata Ketua Umum Asosiasi Produsen Terigu Indonesia (Aptindo) Franciscus Welirang saat acara diskusi di salah satu rumah makan di kawasan SCBD, Jakarta, Senin (24/1/2011).
Franky mengatakan di 2006-2007 produksi gandum anjlok hanya 598 juta ton, kemudian naik pada periode 2007-2008 yang mencapai 609 juta ton. Kemudian di 2008-2009 produksinya terus naik menjadi 686 juta ton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Produksi yang terus menurun, ternyata tak diimbangi oleh konsumsi gandum dunia yang terus naik pada 2007-2008 konsumsi gandum sudah 612 juta ton, sementara tahun 2008-2009 melonjak konsumsinya hingga 638 juta ton, di 2009-2010 melonjak menjadi 650 juta ton, dan di 2010-2011 konsumsi diperkirakan mencapai 660 juta ton atau di atas produksi gandum.
"Hari ini perkiraan stok gandum akan sama seperti tahun 2009," katanya.
Ia menjelaskan beberapa negara penghasil gandum seperti Rusia tahun lalu mengalami penurunan produksi gandum hingga 33%, hal yang sama pun dialami oleh Kanada, dan Argentina yang produksinya anjok karena cuaca. Penurunan produksi ini beriringan dengan penurunan areal tanam gandum.
"Ukraina hari ini memutuskan tak mengekspor gandum ke Indonesia, hanya mengekspor terigu ke Indonesia," katanya.
Di 2011 ini, lanjut Franky, berdasarkan United State Department of Agriculture (USDA) produksi gandum dunia hanya mencapai 646 juta ton.
Kondisi ini kurang lebih turun produksi 5% dari produksi gandum 2009-2010 karena negara-negara penghasil gandum akan mengalami penurunan produksi seperti Kanada, Rusia, Eropa, Afrika Utara.
Sementara itu, konsumsi gandum dunia pada tahun 2011 akan mencapai 2%, konsumsinya naik 12 juta ton menjadi 665 juta ton bahkan konsumsi untuk gandum pakan naik 6%. Sehingga kata dia, di 2011 ini proyeksi harga gandum dunia lebih condong bakal terus naik.
"Sementara ini ancaman besar itu masih akan naik, ketimbang turun," katanya.
Pada Januari 2010 harga gandum (HRW) dunia masih US$ 218 per ton, sementara pada Januari 2011 harganya sudah mencapai US$ 328 per ton atau sudah naik 50%.
(hen/dnl)











































