"Satu-satunya masalah adalah ketersedian tenaga kerja, ini padat karya, satu pabrik bisa 10.000 orang, bagaimana pemerintah mendukung momentum ini bisa dilakukan," kata Sekjen Kementerian Perindustrian Ansari Bukhari, di kantornya, Jakarta, Selasa (8/2/2011).
Ansari menambahkan jika masalah ini bisa diatasi, ia optimistis investasi 22 perusahaan alas kaki asing itu bisa terwujud penuh di 2011. Sehingga lowongan pekerjaan bisa terserap penuh sedikitnya 100.000 orang dengan asumsi satu pabrik menyerap 5.000 orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan sebanyak 22 rencana investasi ini tersebar di sentra-sentra produksi alas kaki seperti di Sidoarjo Jawa Timur, Tangerang Banten, Purwakarta, dan Sukabumi Jawa Barat.
"Kita punya balai (pelatihan) di Sidoarjo, tapi kita tak bisa melatih semua tenaga kerja, yang kita latih adalah pelatihnya," jelasnya.
Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Industri Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko mengatakan berdasarkan hitungannya sedikitnya 70.000 orang akan terserap dari investasi 22 perusahaan tersebut di 2011.
Dikatakan Eddy, sebanyak 22 perusahaan itu mencakup ada yang sudah siap pembangunan pabrik, akuisisi pabrik kolaps, dan sebagian sudah proses produksi.
Sebanyak empat dari 22 perusahaan sudah produksi masing-masing 200.000-300.000 pasang sepatu per bulan.
"Soal tenaga kerja memang susah sekali, antar perusahaan ini karyawan sudah saling bajak. Saya sudah menyurati menakertrans untuk memfasilitasi pendidikan dan pelatihan," kata Eddy.
(hen/dnl)











































