"Kemungkinan besar terhambat karena ada kebijakan baru dari Mesir," kata Ketua Umum Asmindo Ambar Tjahyono di acara konferensi pers di sebuah rumah makan di kawasan Jakarta Selatan, Jakarta, Rabu (9/2/2011).
Ambar menambahkan rencana investasi pengolahan eceng gendok dalam kerangka business to business (b to b) antara Asmindo dengan pengusaha Mesir. Namun meski menerapkan kerangka b to b, peran pemerintah Mesir juga berpartisipasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya Asmindo menjajaki pembangunan pabrik industri pengolahan (handycraft) enceng gondok di Mesir. Kerjasama ini menggandeng perusahaan lokal asal Mesir Baraka Group.
Pihak Indonesia telah menyiapkan investasi Rp 5 miliar, selebihnya dana investasi akan ditanggung oleh Baraka maupun pemerintah Mesir.
Latar belakang ketertarikan Mesir mau bekerjasama dengan Indonesia karena selama ini pihak pemerintah Mesir telah kewalahan menghadapi pertumbuhan enceng gondok yang jumlahnya sangat besar di Sungai Nil.
Pemerintah Mesir menghabiskan uang banyak untuk membersihkan enceng gondok di Sungai Nil. Sementara pihak Indonesia dianggap cukup menguasai bidang kerajinan.
(hen/dnl)











































