Hal ini disampaikan oleh Menteri Perindustrian MS Hidayat ketika ditanya soal produsen otomotif Jepang di Indonesia, saat ditemui di Kantor Pusat Pajak, Jalan Jend.Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (18/3/2011).
"Nanti kalau sudah waktunya, sekarang masih musibah, saya nggak berani ngomong, bisnis dulu," jawab Hidayat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau melihat dalamnya akibat, saya tuh sebetulnya tak berani menanyakan partner kita di Jepang. Baik yang private sector maupun pemerintah. Mereka walaupun memagang komitmen untuk meneruskan, tapi kalau melihat mereka harus melakukan recovery program, itu lebih dari US$ 200 miliar selama 5 tahun ke depan untuk rehabilitasi infrastruktur dan sebagainya. Membuat pemukiman baru untuk puluhan ribu rumah," ujarnya.
Bahkan Hidayat mengaku proyek-proyek tersebut dapat tertunda, termasuk industri otomotif.
"Jadi kalau seandainya ada proyek-proyek baru yang akan ditunda atau digeser saya kira saya akan memakluminya, seperti beberapa otomotif mungkin mereka akan melakukannya ontime tahun ini.Β Saya nggak yakin pada bulan-bulan ini akan terealisir," ujarnya.
Namun, kata Hidayat, setelah 1-2 bulan dia baru berani membicarakan bisnis, bahkan dia berani mengajak Jepang untuk merelokasi industri.
"Tapi nanti 1-2 bulan lagi saya mau menawarkan mereka untuk relokasi beberapa industri komponen mereka dan industri-industri yang sudah dilakukan di sini. Untuk lakukan joint local patner. Mungkin jauh lebih aman," tandasnya.
(nia/dnl)











































