Menperin: Kalau China Main Fair Kita Harus Terima Kalah

Menperin: Kalau China Main Fair Kita Harus Terima Kalah

- detikFinance
Kamis, 24 Mar 2011 15:22 WIB
Jakarta - Menteri Perindustrian MS Hidayat ngotot meminta proses investigasi dumping terhadap temuan tergerusnya 5 sektor industri sebagai imbas perdagangan bebas AC-FTA. Hidayat menegaskan jika China memang bermain tak curang (fair) maka sudah sepatutnya industri dalam negeri mengakui kekalahan.

"Iya kan dalam rangka itu, karena akan membuktikan bahwa kalau kalah dalam persaingan secara fair maka harus diterima. Yang kita mau cegah itu kalahnya atas persaingan yang tidak fair," kata Hidayat di Istana Negara, Kamis (24/3/2011).

Ia menambahkan selain ada dugaan dumping dari China dan banyak beredarnya produk-produk China di bawah standar. Pemerintah China juga sudah jelas-jelas melakukan tindakan yang memberikan proteksi bagi industrinya, seperti pajak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Misalnya, ada treatment yang di sana diberikan berlebih dari segi pajak, sementara kita nggak. Kalau mereka memberikan tingkat suku bunga rendah sementara kita nggak, yah salah kita sendiri," tegas Hidayat.

Menurutnya saat ini yang perlu dilakukan yaitu menginvestigasi terhadap harga dan kualitas produk-produk China yang diduga dumping, langkah ini sesuai ketentuan WTO.
Selain itu, langkah menaikkan efisiensi dan menghilangkan hambatan-hambatan industri nasional harus segera dilakukan.

Hidayat menegaskan survey yang dilakukan oleh kementeriannya, hasilnya akan dijadikan bahan untuk membenahi industri nasional, termasuk menelaah terhadap kemungkinan praktek perdagangan tak sehat dari negara mitra di AC-FTA seperti China.

"Jadi sebenarnya survey itu mau menjelaskan bagi program kerja kita berikutnya yakni memperkuat sektor-sektor yang sudah dikalahkan. Itu mau dipakai kita dalam menyusun regulasi yang baru untuk lebih bisa mengatasinya, mengantisipasi," jelas Hidayat.

Sebelumnya hasil survei yang dilakukan oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyimpulkan AC-FTA di sektor manufaktur berdampak pada pengurangan produksi industri lokal. AC-FTA juga berdampak pada penurunan penjualan, keuntungan, pengurangan tenaga kerja.

Survei kemenperin dilakukan berdasarkan pembagian kuesioner kepada 2.738 penjual, 3.521 pembeli dan 724 perusahaan.Survei dilakukan di 11 kota besar di Indonesia anataralain Medan, Padang, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Pontianak, Makassar, dan Manado.

Dampak negatif AC-FTA juga berupa peningkatan impor bahan baku. Selain itu terjadi juga kecenderungan penurunan pangsa pasar domestik untuk produk-produk buatan dalam negeri.

Para pedagang diduga lebih suka menjual barang-barang impor asal China karena keuntungannya lebih besar. Kondisi ini diduga menjadi penyebab terjadinya penurunan produksi dan keuntungan industri lokal.

Sektor-sektor industri yang tertekan AC-FTA adalah sektor furnitur, logam dan produk logam, elektronik, permesinan, tekstil, dan produk tekstil.

(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads