"Bakery berbasis UKM (usaha kecil menengah), untuk pangsa pasar ke bawah hanya bisa bertahan, tak mampu berkembang. Konsekuensinya margin terus berkurang," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Bakery Indonesia (APEBI) Chris Hardijaya kepada detikFinance, Kamis (24/3/2011).
Ia mengatakan sejak awal tahun 2011 harga bahan baku coklat sudah naik 15%, harga margarin sudah naik 35%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Biaya produksi naik, dengan adanya kenaikan bahan baku mempengaruhi modal atau kenaikan biaya produksi, kalau sekarang mentega naik 35%, masih gula tinggi, coklat naik ini mempengaruhi kenaikan biaya produksi 4-7%, apalagi listrik naik dengan capping 18% dilepas, otomatis naik," jelasnya.
Sementara kenaikan bahan baku paling parah adalah untuk margarin yang sejak Januari lalu sampai saat ini sudah naik 35%. Harga margarin saat ini berkisar Rp 140.000-280.000 per 15 kg jauh lebih mahal dari sebelumnya.
"Khusus untuk margarin April akan naik lagi, sesuai kenaikan harga minyak sawit," katanya.
Ini menambahkan, beban industri roti tak bisa diimbangi dengan langkah menaikan harga. Para produsen lebih memilih memangkas keuntungan dari pada menaikan harga dengan risiko permintaan anjlok.
"Dilemanya kalau naikan harga jual dengan daya beli belum pulih, malah jadi bumerang, kalau naik akan mempengaruhi kuantitas, biasanya Rp 5.000 hanya jadi Rp 4.000, ini menyangkut tenaga kerja industri bakery padat karya. Ini yang selalu kita hindari, kita kurangi keuntungan saja," katanya.
Saat ini, lanjut Chris, setidaknya anggotanya mencapai 1.000 perusahaan, di mana 65% merupakan perusahaan kecil dan 5% perusahaan besar. Tenaga kerja yang terserap di sektor industri roti setiap pabriknya menyerap 5 orang tenaga kerja hingga 600 orang untuk pabrik skala besar.
"Sepanjang tahun kemarin dan tahun ini memang belum ada yang gulung tikar, tapi ada yang alih profesi karena mereka merasa sudah tak mampu bertahan," katanya.
(hen/dnl)










































