Demikian disampaikan oleh Ketua Umum Kadin, Suryo Bambang Sulisto seusai menghadiri acara 8th ASEAN Leadership Forum yang diselenggarakan di Hotel Nikko, Jakarta, (9/5/2011).
"Saya kira kan intinya kita ingin meningkatkan kesadaran dan kepedulian mengenai masalah climate change, masalah pentingnya sustainibility terhadap lingkungan kita. Supaya menunjukkan Indonesia adalah negara yang peduli dan bertanggung jawab pada lingkungan. Kita kan sekarang juga lihat bahwa keluhan-keluhan yang selama ini negara tetangga kita mengenai kebakaran hutan dan seabagainya sudah berkurang. Jadi, sekarang adalah saat yang tepat untuk membangun industri semacam itu (industri pengolahan limbah)," rincinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bangun satu industri yang dimiliki bersama dan memiliki saham di situ. Industri tersebut bisa mengolah bermacam limbah yang berbahaya ataupun tidak sama sekali, serta lebih khusus untuk mengelola limbah yang sulit untuk diproses," jelas Suryo.
Jika ASEAN memiliki industri tersebut, maka pemerintah mengeluarkan peraturan-peraturan yang memaksa harus dipenuhi oleh industri, mereka akan tahu limbahnya mau dikirim ke mana. "Selama ini kan walaupun kita ada peraturan-peraturan terkait, mereka selalu bilang ya ke mana saya musti kirimnya (limbah)?" tukasnya.
Mnegenai dananya, Suryo mengatakan di Eropa membutuhan dana 500 juta euro untuk pembangunan pabrik limbah tapi bisa menampung ratusan ton limbah untuk diolah.
Namun, Suryo menyampaikan hal ini baru sebatas usulan yang menurutnya bisa dijadikan proyek ASEAN. Limbah yang bisa diolah antara lain limbah bekas baterai, barang elektronik, sampai limbah rumah sakit.
"Tapi ini kan mesti ditawarkan dulu idenya ke negara lain. Musti dirundingkan, karena di antara kita harus ada kesepakatan, ke Kementerian Lingkungan masing-masing negara, mereka harus dukung karena itu sensitif," lanjutnya.
Kepulauan Riau bisa menjadi lokasi yang tepat untuk pembangunan limbah industri tersebut. Lebih lanjut lagi Suryo menambahkan rencana ini sesuai dengan keinginan Presiden SBU untuk menekan emisi hingga 26% sampai 2020. Maka itu, pembangunan industri pengolahan limbah tersebut perlu dipikirkan.
(nrs/dnl)











































