Industri Mesin Perkakas Lokal Kesulitan Pemasaran

Industri Mesin Perkakas Lokal Kesulitan Pemasaran

- detikFinance
Selasa, 10 Mei 2011 15:34 WIB
Industri Mesin Perkakas Lokal Kesulitan Pemasaran
Jakarta - Industri mesin perkakas di dalam negeri masih berkutat soal sulitnya melakukan pemasaran produknya. Sebagai industri yang menciptakan induk dari segala mesin, industri ini membutuhkan jaminan pasar.

Agar industri ini lebih berkembang, industri-industri tersebut perlu mendapatkan dukungan pemerintah dari pemasaran hingga dana investasi.

Demikian disampaikan oleh Ketua Gabungan Asosiasi Perusahaan Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma) Dasep Ahmadi usai menghadiri konferensi pers yang dilaksanakan di Kementerian Perindustrian, Jakarta (10/5/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Menurut saya (investasi) sekitar Rp 100 miliar per perusahaan itu cukup untuk awal. Itu sekitar US$ 11 juta. Nanti dari dana investasi tersebut bisa berkembang bagus bagi industri dan bisa dikembangkan untuk ekspor juga," kata Dasep.

Menurutnya, Industri mesin perkakas di Indonesia masih belum optimal dapat bersaing dengan industri sejenis di luar karena pemerintah belum mau memfasilitasi mereka dalam hal pendanaan maupun pemasaran.

"Pemerintah seharusnya memikirkan investasi kepada perusahaan berkembang, kelas menengah, yang memang layak dikembangkan. Sejauh ini kan masih kekurangan dana, kita susah dapat dana dari bank. Padahal pasar yang ada bagus, industri pun ke depannya bisa ikut berkembang," jelas Dasep.

Ia menilai jika pemerintah dapat menginvestasikan dananya kepada industri mesin perkakas maka dalam waktu 10 tahun, bisa mengembalikan dana yang diinvestasikan sebelumnya.

"Bisa kok seperti itu, pemerintah sendiri juga punya pasar untuk itu, banyak pembelinya, jadi dananya tidak akan kemana-mana. Namun, kenapa pemerintah tidak mau? Padahal kebutuhan pemerintah untuk perkakas banyak, pelakunya di sini ada, pemainnya ada, tapi kurang dana. Padahal kita sudah punya captive marketnya," jelasnya.

Dikatakannya di regional Asia Tenggara (ASEAN), Indonesia berada di posisi kedua untuk industri perkakasnya, dimana pada posisi pertama masih dikuasai oleh Thailand. Thailand menjadi besar di ekspornya, namun Indonesia kuat memasok dalam negeri.

"Kalau daya bersaing kita bisa, upah buruh mereka lebih mahal, tenaga insinyur lebih mahal. Secara market kita juga memiliki potensi yang lebih besar hanya saja bunga bank di mereka lebih kecil," ungkapnya.

Menurutnya jika dibandingkan dengan Vietnam, Myanmar, atau Laos, Indonesia masih lebih tinggi kemampuan dan teknologi mesin perkakas. Indonesia memiliki prospek untuk menjadi pemain utama di industri perkakas dan mesin di ASEAN.

Dasep menyarankan agar ada kerjasama dengan pihak Eropa atau Jepang dimana melalui kerjasama seperti itu, Industri lokal dapat menyamai mutu yang kualitasnya.

"Untuk masalah produksi, kalau dari luar memang tidak bisa dihindari (impor perkakas bagi perusahaan), tapi sebetulnya bisa kita siati. Kita bisa lihat dari sisi yang cenderung harus dibeli dari luar dan mana yang bisa kita suplai sendiri, harus dipilah-pilah," ucap Dasep.

Dasep menilai, bahwa industri perkakas lokal sanggup untuk membuat teknologi yang non-presisi, sehingga mereka mengaku bisa menyuplai untuk kebutuhan dalam negeri.


(nrs/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads