Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Urip Timuryono kepada detikFinance, Kamis (14/7/2011).
"Ya itu memang di luar dari perkiraan, ini kan ada Puasa, mereka (pedagang) membeli untuk persiapan Puasa. Ini kan pengiriman akan berkurang menjelang 2 minggu Lebaran, truk tak boleh beroperasi. Agar ada stok, terutama di Juni penjualan cukup tinggi. Kita ukur (penjualan) yang ke luar dari pabrik," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Juni lebih kencang karena Agustus ada Lebaran, truk dibatasi," katanya.
Ia menegaskan produksi dan suplai semen dari pabrik yang sudah eksisting saat ini masih sangat cukup. Urip menambahkan adanya pemain atau investor baru semen seperti China dan Prancis akan mempengaruhi tatanan pasar semen di Indonesia.
"Pabrik semen yang eksisting akan menambah produksi seperti Tonasa, Gresik, Holcim dan Indocement tahun 2015 diperkirakan produksinya 75 juta ton. Ini belum dihitung dari pemain baru," katanya.
Dengan melihat kondisi kapasitas produksi pabrik semen saat ini, maka ia memperkirakan akan terjadi oversupply dalam 4 tahun mendatang karena ada pemain baru.
Bila ada kenaikan 10% setiap tahun, maka di 2015 diperkirakan konsumsi semen mencapai 65 juta ton sementara tahun 2012 sebesar 48 juta ton, tahun ini 44 juta ton dan 2010 sebanyak 40 juta ton.
"Produksi semen masih cukup banget, saya nggak tahu yah apakah pemain baru itu sudah menghitung benar, apakah ada perkiraan lonjakan permintaan semen. Kalau terjadi oversupply yang berat pemain lamanya, dia harus mempertahankan eksisting," jelas Urip.
Mengenai peluang ekspor semen, terhadap potensi kelebihan produksi itu, menurut Urip itu bisa tapi tak menguntungkan. Selama ini juga tercatat sudah diekspor semen ke negara-negara terdekat Indonesia seperti Timor Leste dan Papua New Guinea.
(hen/dnl)











































