Fadel berjanji untuk mengupayakan agar para petambak plasma dapat kembali melakukan budidaya udang secepatnya.
"Sambil menunggu listrik masuk, kita akan buat kincir yang tidak bergantung pada listrik dari perusahaan, sehingga petambak plasma dapat produksi lagi dan saya akan jadikan kawasan ini menjadi kawasan Minapolitan Udang," kata Fadel Muhammad dalam siaran pers yang diterima detikFinance, Jakarta, Rabu (3/8/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemerintah tidak akan melakukan negosiasi dengan PT Aruna Wijaya Sakti (AWS) terkait dengan penyelesaian kasus pemutusan hubungan listrik yang dilakukan secara sepihak oleh perusahaan terhadap belasan ribu hektar tambak plasma awal Mei lalu," kata Fadel.
Untuk itu ia meminta para petambak plasma di Dipasena bersabar untuk menunggu sedikit lebih lama pihak PT PLN mengalirkan listrik ke Bumi Dipasena.
"Selain kendala hukum, mengalirkan listrik ke Dipasena juga membutuhkan pembangunan infrastruktur serta kendala teknis lainnya," keluhnya.
Sejauh ini Fadel berjanji untuk memberi semua kebutuhan hidup seperti beras sebanyak 20 ton, 100 genset bantuan untuk penerangan, dan peralatan budidaya tambak.
"Saya akan anggarkan Rp 1,5 Miliar untuk disini. Anggaran tersebut akan digunakan untuk penyediaan benur, hachery dan lainnya," janji Fadel.
Seperti diketashui, dengan diputusnya listrik oleh pihak PT AWS 7 Mei 2011 lalu, pemerintah berjanji untuk menargetkan listrik dapat tersambung kembali paling lambat tanggal 29 Mei 2011.
Sejak diputusnya pasokan listrik, tambak-tambak plasma tersebut terpaksa dikosonglan. Sebagian petambak ada yang berpindah pekerjaan dengan menebar jaring untuk menangkap ikan di kanal-kanal. Beberapa dari mereka yang menangkap ikan hanya mendapatkan Rp 15.000 - Rp 20.000 per hari dari hasil tangkapan yang dijual.
(nrs/hen)











































