Pasca Lebaran, Air Minum Kemasan Bakal Langka

Pasca Lebaran, Air Minum Kemasan Bakal Langka

- detikFinance
Jumat, 26 Agu 2011 13:17 WIB
Pasca Lebaran, Air Minum Kemasan Bakal Langka
Jakarta - Produsen air minum dalam kemasan (AMDK) mengaku mengalami kesulitan untuk tetap mendistribusikan produknya secara maksimal meski angkutan AMDK dibolehkan beroperasi sebelum dan sesudah Lebaran.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) Hendro Baroeno mengatakan adanya pembatasan angkutan truk AMDK hanya maksimal dua sumbu akan berpengaruhi pada stok AMDK pasca Lebaran. Meskipun ia memastikan kebutuhan AMDK saat Lebaran relatif aman.

"Kita upayakan untuk terus didistribusikan, tapi yang jelas kekurangan terutama setelah Hari Raya," kata Hendro kepada detikFinance, Jumat (26/8/2011)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengilustrasikan dalam kondisi normal produsen AMDK menggunakan truk jenis 3 dan 4 sumbu demi menekan biasa distribusi. Dengan asumsi setiap sumbu mampu membawa 8 ton maka jika 3 sumbu bisa mencapai daya angkut 24 ton untuk sekali angkut.

Namun dengan adanya pembatasan hingga maksimal truk dua sumbu maka kemampuan angkut hanya akan tercapai separuhnya. Meskipun ada cara lain dengan memperbanyak jumlah angkutan truk dua sumbu. Ia memperkirakan kebutuhan truk angkut akan membengkak dari 300 truk menjadi 600 truk.

"Sekarang masih diusahakan fuso tidak lebih dari dua sumbu, kita tak punya dua sumbu karena untuk menekan cost, kita punya 3 dan 4 sumbu yang penting tekanan satu sumbu 8 ton. Industri AMDK mencari truk yang fuso dua sumbu tak semudah itu ketika sekarang hanya dibatasi 2 sumbu," katanya.

Selain masalah pembatasan truk hanya dua sumbu, masalah tersendatnya pasokan air minum kemasan juga sudah terjadi semenjak ada kebijakan pembatasan truk masuk tol dalam kota Jakarta. Menurut Hendro, hingga kini akumulasi kekurangan suplai AMDK dari kebijakan itu masih terasa hingga kini.

"Kawan-kawan mengisi sampai hari ini H-4, saya dapat informasi tadi sampai-sampai demi mengejar waktu ada yang kecelakaan," katanya.

Ia mencatat setiap harinya kebutuhan air minum kemasan di Jabodetabek 16 juta liter. Sementara kebutuhan nasional untuk bulan Agustus diperkirakan mencapai 1,42 miliar liter, sebanyak 39% dikonsumsi di Jabodetabek, dari jumlah itu 70% dalam bentuk galon.

Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono hari ini menegaskan tidak ada penghentian distribusi air minum mineral selagi alat angkut yang digunakan bersumbu dua dengan daya angkut sekitar 10 ton.

"Masih boleh beroperasi, kalau untuk 2 sumbu boleh beroperasi. Yang penting jangan pakai truk besar, tapi sumbu 2 maksimal 10 ton," jelasnya.

Pasalnya, lanjut Bambang, jika menggunakan truk besar maka puncak arus mudik akan terganggu."Karena kalau truk besar, kita sedang puncak mudik, lalu lintas cukup berat jadi mengurangi kecepatan dan sebagainya," pungkasnya.

Seperti diketahui pemerintah melarang truk-truk berat beroperasi mulai H-4 sampai H+1 Lebaran. Namun dikecualikan bagi truk-truk yang mengangkut pangan termasuk air minum.
(hen/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads