"Pelemahan rupiah kita sebaiknya dibiarkan kembali mendekati Rp 10.000/dolar AS supaya perdagangan ekspor akan bergairah kembali dan neraca kita supaya surplus lebih besar," kata Ketua Umum Asosiasi Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono kepada detikFinance, Kamis (22/9/2011)
Ia mengatakan dengan menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar sampai ke titik Rp 10.000, bisa memberi gairah usaha dan membangkitkan usaha sektor furnitur. Hal inilah yang sudah sejak lama diharapkan oleh para anggotanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harapan Ambar ini nampaknya sulit terealisasi, Bank Indonesia (BI) telah melakukan intervensi terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sehingga tidak jatuh lebih dari Rp 8.950 per dolar AS. Kabarnya BI sudah mengeluarkan dana sekitar US$ 100 juta.
Hingga siang ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar domestik terpantau kembali melemah ke level 9.045 per dolar AS, dibandingkan posisi pagi tadi di kisaran 8.950 per dolar AS. Namun pagi tadi, untuk Non Deliverable Forward (NDF) rupiah terhadap dolar AS sudah di posisi Rp 9.300.
Meskipun pada pagi ini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah di posisi Rp 8.950 per dolar AS dibandingkan penutupan perdagangan kemarin di Rp 8.900 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar terus melemah dalam beberapa perdagangan terakhir, dipicu oleh suramnya prospek ekonomi global terutama akibat krisis utang di zona Eropa.
(hen/dnl)











































