Industri Rotan China Bergairah, Pabrik Lokal Berdarah-darah

Industri Rotan China Bergairah, Pabrik Lokal Berdarah-darah

- detikFinance
Kamis, 29 Sep 2011 15:38 WIB
Industri Rotan China Bergairah, Pabrik Lokal Berdarah-darah
Jakarta - Industri furnitur rotan dalam negeri kini sedang babak belur tak bisa bersaing karena sulit mendapatkan bahan baku rotan. Di saat yang bersamaan industri rotan China justru sedang menikmati masa kejayaan karena mendapat pasokan bahan baku dari Indonesia.

"Ekspor rotan ke China dan Vietnam tak ada manfaat bagi kita. Industri rotan kita hidup segan mati tak mau. Sementara di China sedang bergairah luar biasa, saya baru pulang dari pameran di Shanghai, mereka mendapat amunisi dari kita mereka pesat," kata Ketua Umum Asosiasi Mebel dan Rotan Indonesia (AMKRI) Hatta Sinatra kepada detikFinance, Kamis (29/9/2011).

Menurut Hatta, dengan adanya kebijakan ekspor rotan yang dilakukan oleh kementerian perdagangan, telah menutup akses pasar produk mebel rotan dalam negeri di pasar China. Produk mebel rotan China yang bahan bakunya dari Indonesia juga mengganggu pasar ekspor produk rotan Indonesia di AS dan Eropa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini tindakan bodoh, saya nggak tahu kenapa mendag (Mari Elka Pangestu) melakukan hal ini. Seharusnya mendag menjadi mediasi produk jadi kita dalam bentuk jadi ke pasar China bukan barang mentah. Kami itu tidak tahu yah, kalau itu bagaimana bahan baku distop," tegasnya.

Ia menjelaskan kebijakan ekspor rotan tak bisa diterima dengan segala macam alasan termasuk soal cuma alasan membela petani rotan lokal. Menurutnya berdasarkan penelitian AMKRI, kebijakan ekspor rotan justru hanya menguntungkan eksportir bukan petani rotan.

"Tidak ada petani yang sejahtera dengan adanya kebijakan ekspor rotan, yang sejahtera adalah pengekspor rotan ke China dan industri rotan di China," katanya.

Dikatakan Hatta, ekspor bahan baku rotan juga telah mengabaikan aspek mendorong penciptaan nilai tambah di dalam negeri. Ia menuturkan satu kontainer rotan mentah mencapai US$ 3000, namun setelah diolah menjadi produk mebel jadi kelas medium nilai jualnya menjadi Us$ 10.000.

"Sehingga bisa dikatakan punya nilai tambah luar biasa. Kalau rotan mentah diekspor satu kontainer memang bisa menjadi US$ 3.500, tapi nilai tambahnya tak ada," katanya.

Selain itu, dari sisi pendapatan negara melalui bea keluar dengan adanya ekspor rotan tak memberikan nilai yang signifikan atau tak sebanding dengan dampak buruk bagi industri rotan dalam negeri. Belum lagi, ekspor rotan diduga juga banyak dilakukan melalui cara ilegal dengan diselundupkan.

"Selama ini nilai ekspor rotan (mentah) yang resmi (per tahun) sekitar US$ 32 juta, yang tak resmi kita tak tahu berapa kali lipatnya," katanya.

Menurut data dari AMKRI ekspor furnitur rotan Indonesia sejak 2005 terus menurun, dari US$ 347 juta menjadi hanya US$ 138 juta di Agustus 2010. Kondisi industri rotan jadi Cirebon yang merupakan barometer industri rotan nasional pun kembang kempis kondisinya. Hal ini karena mereka sulit mendapatkan bahan baku karena dibukanya kran ekspor rotan.

"Padahal kita punya kemampaun bisa ekspor US$ 1 miliar produksi. Beberapa tahun terakhir terus turun bahkan semester pertama tahun ini kita hanya bisa ekspor US$ 57 juta," jelasnya.

Imbasnya, tahun lalu saja ada 43% atau 220 perusahaan rotan yang gulung tikar, sementara 40% atau 208 perusahaan ada di stadium 4 atau hampir kolaps, dan 17% atau 73 perusahaan masih tetap bertahan.
(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads