Demikian disampaikan Pengamat Ekonomi Syariah Adiwarman Karim dalam Seminar Economic Outlook di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (16/11/2011).
"Potensi ini sulit dihambat karena sifatnya market driven yang didukung oleh dua faktor utama yaitu populasi dan kreativitas," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena tidak ada perbedaan gender, busana muslim menjadi fashion dan bisa dijadikan busana mewah," ujarnya.
Sementara untuk industri makanan dan minuman halal, Adiwarman menyatakan sangat berkaitan dengan sertifikat halal. Pasalnya, eksportir yang ingin memasukkan barang-barang ke Indonesia harus mengikuti standar halal MUI, akibatnya standar halal Indonesia menjadi standar global.
"Kalau urusan halal haram ini, penduduk Indonesia keras, kalau babi memang haram, kita tidak makan, tapi kalau cuma urusan pendukung Palestina dan menentang Israel, itu masih bisa kita doakan," celotehnya.
Untuk industri media konten religi, Adiwarman menyatakan potensinya cukup besar untuk berkembang mengingat muslim Indonesia sangat beragam.
"Keragaman ini memperluas rentang konten religi mulai dari hiburan dakwah sampai dakwah serius, dari yang Islam yang keras sampai yang mau berbuat dosa sebut Bismillah dulu," candanya.
Di sektor keuangan syariah, Indonesia mulai mengokohkan dirinya sebagai pusat Keuangan Syariah dunia. Bersama Iran, Malaysia dan Arab Saudi, Indonesia masuk dalam Empat Besar Dunia berdasarkan Islamic Finance Country Index yang diterbitkan di London.
Dari Empat Besar tersebut, Indonesia merupakan satu-satunya negara demokrasi terbesar dunia yang pertumbuhan keuangan syariah nya berorientasi pada sektor ritel, mikro dan consumer.
Jumlah nasabah bank syariah sebesar 10 juta dan asuransi syariah sebanyak 3,5 juta setara dengan jumlah seluruh populasi muslim di Malaysia. Jumlah itu hanya sedikit di bawah jumlah total warga negara Arab Saudi yang 16 juta.
"Di Indonesia syariah diterima dengan luas, asal tidak menimbulkan dominant anxiety, jangan mencekam, semua haram-haram itu kagak bisa. Nilai baik oke, tapi jangan menyudutkan orang lain sehingga merasa tercekam, di Indonesia begitu," pungkasnya.
(nia/hen)











































