Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip detikFinance, pada Oktober tahun 2010, nilai impor komoditas kopi, teh, dan rempah-rempah hanya US$ 7,8 juta. Namun, pada Oktober 2011 ini, nilai impor tersebut meningkat 1.548% menjadi US$ 128 juta.
Sementara jika dibandingkan Januari-Oktober 2010 dengan 2011, nilai impor ketiga kommoditas ini juga naik 508%, dari US$ 73 juta menjadi US$ 442 juta pada periode tersebut di tahun 2011.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Negara pengekspor terbesar untuk kopi ke Indonesia juga Vietnam. Negara ASEAN itu telah menggelontorkan 5,1 ribu ton kopi dengan nilai US$ 11 juta sepanjang tahun 2011 ini. Sementara untuk Oktober ini saja, kopi yang datang dari negeri ini sebanyak 57,6 ton dengan nilai US$ 142 ribu.
Sedangkan untuk negara pengekspor rempah-rempah seperti cengkeh didominasi Madagaskar dengan total impor cengkeh sebanyak 11,5 ribu ton dengan nilai US$ 262 juta sepanjang tahun ini. Sementara untuk bulan Oktober tahun ini sebanyak 1,9 ribu ton dengan nilai US$ 48,5 juta.
Untuk rempah seperti lada, Vietnam kembali menjadi negara pengekspor terbesar dengan total impor 1,1 ribu ton yang senilai US$ 3,8 juta sepanjang tahun ini. Sementara Oktober 2011, sebanyak 77,5 ton lada impor dengan nilai US$ 683,6 ribu masuk ke tanah air.
Sebelumnya, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi sempat mengungkapkan kekhawatirannya akan impor komoditas sejenis rempah-rempah ini. Dia menyatakan dari hasil pembicaraan di kongres Dewan Rempah Indonesia terungkap bahwa pertumbuhan impor rempah-rempah Indonesia lebih cepat dibandingkan pertumbuhan ekspornya.
Pada tahun 2009, ekspor rempah Indonesia sebesar US$ 796 juta, tahun 2010 sebesar US$ 1,165 miliar. Sementara untuk tahun ini hingga Agustus 2011 baru mencapai US$ 853 juta.
"Sampai akhir tahun diperkirakan ekspor rempah kita bisa mencapai US$ 1,2-1,3 miliar," ujar Bayu dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, bebeapa waktu lalu.
Untuk impor rempah, lanjut Bayu, pada tahun 2009, sebesar US$ 409 juta, pada tahun 2010 sebesar US$ 539 juta, sedangkan pada tahun ini hingga Agustus 2011 sudah menembus US$ 653 juta. Diperkirakan hingga akhir tahun, impor tersebut mencapai US$ 750-800 juta.
"Kondisi ini memperlihatkan bahwa ekspor meningkat tapi impor rempah meningkat lebih pesat. Gambaran ini menunjukkan bagaimana pentingnya pasar domestik, kita harus betul-betul menjaga pasar ini. Ini artinya ada permintaan besar di dalam negeri," ungkapnya.
Padahal menurut Bayu, di Indonesia terdapat 1100 jenis tanaman rempah. Sayangnya, jenis rempah yang telah didokumentasikan baru 200 jenis rempah. "Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan rempah, cerita dulu negara-negara lain mencari rempah di Indonesia," ujarnya.
Menurut Bayu, pemerintah harus mempertahankan dan memperkuat produktivitas komoditas rempah-rempah. Selain itu, perlunya intermediate industri sehingga rempah-rempah ini dapat berperan besar di tanah air dan adanya kebijakan impor.
"Ini fokus kita, ini yang harus kita lakukan langkah-langkah untuk menangani itu," tandasnya.
(nia/ang)










































