Menurut Dahlan, jika industri dalam negeri mampu membuat converter kit maka ia sangat mendukung. Termasuk mendorong BUMN seperti PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan PT Boma Bisma Indra.
"Sebaiknya dihindarilah dari impor, kecuali terpaksa," kata Dahlan di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (6/1/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"PT DI sepanjang tidak menganggu program pembuatan pesawatnya, saya mendukung. Rencananya minggu depan saya akan bertemua orang PT DI, konsultasi dengan direksi PT DI. Desainnya seperti apa? Apakah sulit?," tuturnya.
"Jika sulit kan industri lain bisa digerakkan, ikut juga. Rasanya sih nggak ada barang yang nggak bisa dibuat. Boma Bisma Indra bisa ikut bikin," ucap Dahlan.
Namun jika pemerintah memutuskan impor converter kit dengan alasan waktu yang mepet, Dahlan pun setuju. "Baiklah kalau memang terpaksa impor," katanya.
Pertanyaan selanjutnya? Apakah impor, converter kit ready stock? Atau tetap harus diproduksi terlebih dahulu?
"Kalau impor di sananya masih harus dibuat, kan lebih baik buat di dalam negeri. Dari Eropa ke sini kan pengapalannya satu bulan? Tapi kalau hari ini impor dan bulan depan barangnya bisa ada. Ya datanglah," imbuh Dahlan.
(wep/dnl)











































