"Menteri Perindustrian setuju untuk tidak impor. Untuk converter kit saya yakin BUMN-BUMN kompeten," kata Hidayat kepada detikFinance akhir pekan ini di Graha Niaga.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pengerjaan produksi converter kit itu harus sangat teliti karena merupakan produksi yang harus nol tolerasi terhadap kesalahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hidayat juga menambahkan kalaupun nanti pemerintah dalam hal ini menko perekonomian tidak berani untuk mengambil keputusan tidak impor, maka ia akan menunjuk Meneg BUMN untuk mengajukan diri.
"Kalau nanti pemerintah tidak berani, perindustrian yang menunjuk Meneg BUMN untuk pasang badan. Karena ini dadakan, serahkan sama Meneg BUMN untuk produksi. Supaya orang tahu juga bukan keinginan kita untuk impor," katanya
Converter kit, alat konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) yang akan dibuat oleh BUMN dan perusahaan swasta dalam negeri ditegaskan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan kualitasnya baik dan aman digunakan baik tangki maupun converter kit-nya.
Dahlan mengakui, ada kekhawatiran dengan kualitas tabung gas apalagi dengan adanya kejadian tabung gas meledak.
"Ya, memang ada yang merasa khawatir bocor. Tapi yang buat itu orang-orang pintar. Di seluruh dunia juga belum ada kasus seperti itu (kebocoran converter kit-red). Semua sudah dihitung," ujar Dahlan beberapa waktu lalu.
Ia menyebutkan, titik bakar Bahan Bakar Gas (BBG) jenis Liquid Gas for Vehicle (LGV) itu di 450 derajat sementara premium di 220 derajat. "Jadi secara teoritis, premium lebih mudah terbakar daripada LVG dan lainnya. Saya tidak ahli, itu saya mengutip pendapat teman-teman tadi," katanya.
Pemerintah awalnya akan mengimpor 250.000 unit converter kit terkait program tersebut, angka itu hanya sebagian kecil dari total kebutuhan alat tersebut sebanyak 2,5 juta unit beberapa tahun mendatang.
(hen/hen)











































