"Converter yang utama adalah kualitas. Jadi kualitas harus baik dan standar nasional Indonesia harus dijaga. Kalau misalnya bisa diproduksi dalam negeri maka akan diproduksi dalam negeri, tapi kualitas yang diutamakan. Jadi kalau bisa dilakukan impor sambil industri dalam negeri mempersiapkan diri," tutur Agus Marto di kantor presiden, Jakarta, Senin (16/1/2012).
Saat ini tengah terjadi tarik-menarik antara impor converter kit di kalangan pemerintah. Apakah akan impor atau menggunakan converter kit lokal seperti yang telah diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia (PT DI).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, Hidayat mengingatkan pengerjaan produksi converter kit itu harus sangat teliti karena merupakan produksi yang harus nol tolerasi terhadap kesalahan.
Converter kit, alat konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) yang akan dibuat oleh BUMN dan perusahaan swasta dalam negeri ditegaskan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan kualitasnya baik dan aman digunakan baik tangki maupun converter kit-nya.
Pemerintah awalnya akan mengimpor 250.000 unit converter kit terkait program tersebut, angka itu hanya sebagian kecil dari total kebutuhan alat tersebut sebanyak 2,5 juta unit beberapa tahun mendatang.
Agus Marto mengatakan, mulai April 2012 nanti pemerintah akan melakukan kebijakan pembatasan konsumsi BBM subsidi dengan melarang mobil pribadi menggunakan bensin premium di Jawa-Bali. Pemerintah juga menawarkan alternatif penggunaan BBG kepada masyarakat.
Dikatakan Agus, pemerintah menyiapkan Rp 965 miliar untuk program konversi BBM ke BBG ini. Dana tersebut akan ditambah lagi sehingga mencukupi untuk pengadaan converter kit.
Pemerintah akan membagikan converter kit kepada angkutan umum secara gratis. Ini dilakukan agar konsumsi BBM berkurang dan pemerintah irit subsidi. Tapi soal realisasinya, kita lihat saja bakal seperti apa.
(dnl/hen)











































