Dirjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Panggah Susanto mengatakan potensi industri Indonesia sangat banyak, mulai dari potensi ketersediaan bahan baku, potensi pasar dan potensi hilirisasi.
"Seperti potensi ketersediaan bahan baku, mulai dari bahan baku industri petrokimia, oleokimia, fine chemical, coal-based industry dan bio mass-based industri, mulai dari cadangan minyak bumi mencapai 7.998,49 MMSTB, cadangan gas bumi 159,63 TSCF dan batubara mencapai 104,8 miliar ton," ujar Panggah pada Raker Kementerian Perindustrian, Rabu (1/2/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sementara pasar produk petrokimian cukup besar juga, dari penduduk Indonesia sekitar 237 juta jiwa dengan tingkat konsumsi plastik perkapita masih 9,5 kg. Selain itu dihilir, industri pengguna bahan baku kimia (tekstil, plastik kemasan dan otomotif) menghasilkan aneka produk yang selaras dengan tingkat pertumbuhan penduduk," paparnya.
Namun, segudang potensi tersebut, juga menghadapi permasalahan segudang pula. Misalnya seperti bahan baku induastri kimia hulu, khususnya napta dan kondensat, masih diimpor karena kemampuan pasokan gas bumi dalam negeri masih dibawah kebutuhan industri.
"Kemudian, belum terintegrasinya industri primer pengolah sumber daya tambang mineral dengan industri hulu, industri antara dan industri hilir," ucapnya.
Menurutnya perlindungan produk lokal terhadap persaingan bebas belum optimal terutama pemberlakuan free trade agreement (FTA) dengan berbagai negara yang memiliki basis industri yang kuat seperti China.
"Produk lokal belum bisa bersaing dengan eks impor apalagi saat ini seperti produk baja, banyak beredar baja dari China yang membanjiri pasar lokal dengan harga 20% lebih murah," ungkapnya.
"Itu masih sedikit masalah yang saya ungkapkan, masih banyak masalah lagi yang menjadi penghambat mulai bunga investasi, belum dikembangkannya instrumen kebijakan insentif usaha di daerah dan banyak lagi," tandas Panggah.
(hen/hen)











































