Direktur Statistik Distribusi BPS Satwiko Darmesto menyatakan defisit perdagangan Indonesia 2011 semakin besar jika dibandingkan tahun 2010. Pada tahun 2010, defisit perdagangan Indonesia-China sekitar US$ 2 miliar, kemudian membengkak menjadi US$ 3 miliar pada tahun 2011.
"China defisit gede loh US$ 3 miliar, membesar loh. Tahun lalu kan US$ miliaran, jadi makin besar. Artinya China memang mitra dagang yang tangguh sehingga kita defisit banyak," ujarnya saat ditemui di kantornya, Jalan Dr Sutomo, Jakarta, Rabu (1/2/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau permintaan CPO China turun, akan mengurangi ekspor kita sehingga defisit kita bisa lebih besar," ujarnya.
Ia menilai selagi impor barang dari China merupakan barang baku atau modal maka hal tersebut justru dapat memberikan dampak positif bagi Indonesia. "Yang penting bagaimana mengelola itu, artinya apa yang kita perlukan dari China benar-benar yang kita perlukan atau sekedar substitusi," tegasnya.
Satwiko menambahkan dengan adanya krisis ekonomi dunia, diperkirakan nilai perdagangan akan mengalami penurunan. "Krisis tahun 2008 kita butuh 18 bulan untuk ekspor bisa kembali pulih. Kalau untuk krisis saat ini bisa kira-kira setahun," ujarnya.
Kinerja ekspor pada tahun 2011 yang menembus US$ 203,6 miliar, lanjut Satwiko, sulit terwujud kembali pada tahun 2012 ini. "Mudah-mudahan kita bisa capai US$200 miliar tahun ini, tapi pasti akan turun," tuturnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Djamal, menambahkan pertumbuhan ekpor pada tahun ini akan sulit mencapai 27-28% atau sama dengan tahun lalu. Kinerja ekspor Indonesia dengan dua wilayah yang tengah krisis yakni Amerika dan Eropa tetap positif meski cenderung melambat. "Pasti ada dampaknya (krisis global) meski tidak terlalu besar," imbuhnya.
(nia/hen)











































