Pemerintah 'Ekspor' 50 Pengrajin Rotan Cirebon ke Mamuju

Pemerintah 'Ekspor' 50 Pengrajin Rotan Cirebon ke Mamuju

- detikFinance
Selasa, 21 Feb 2012 19:25 WIB
Pemerintah Ekspor 50 Pengrajin Rotan Cirebon ke Mamuju
Jakarta - Daerah Mamuju di Sulawesi Barat saat ini diklaim sebagai gudang produksi rotan nasional, karena 70% rotan nasional berasal dari wilayah ini. Namun daerah itu tak memiliki sentra produksi rotan olahan. Karena itu pemerintah mengirim 50 pengrajin rotan asal Cirebon ke daerah itu.

"Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian, Perdagangan, serta Tenaga Kerja dan Transmigrasi tahun ini akan mengirim ahli pengrajin rotan asal Cirebon untuk pindah ke Mamuju," ujar Menteri Perindustrian MS. Hidayat di Bandara Tanpa Padang, Mamuju, Selasa (21/2/2012).

Hidayat mengatakan saat ini sudah ada 50 kepala keluarga pengrajin rotan dari Cirebon yang bersedia dipindahkan ke Mamuju untuk mengajarkan cara pengolahan rotan dari bahan baku mentah menjadi produk-produk olahan rotan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tahun ini mereka siap pindah dan akan difasilitasi oleh Kemenakertrans dan Pemprov Sulawesi Barat," ujar mantan Ketua Kadin ini.

Ditambahkan Hidayat, aksi pemerintah ini bertujuan agar daerah penghasil rotan seperti di Mamuju tidak hanya 'mengekspor' rotannya ke pulau lain seperti Jawa atau bahkan ke luar negeri dalam bentuk rotan mentah.

"Harapan kami daerah penghasil bisa memiliki sentra produksi, karena dengan memproduksi rotan olahan nilai tambahnya cukup besar dari pada hanya menjual bahan baku mentahnya," tutur Hidayat.

Ditambahkan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, penyebaran sentra produksi rotan khususnya di daerah penghasil ini juga sebagai latar belakang dikeluarkannya Permendag Nomor 35 Tahun 2011 tentang larangan ekspor rotan mentah.

"Larangan ekspor tidak lain untuk mendorong penyerapan rotan dalam negeri dan penyerapan nilai tambah dalam negeri. Hasilnya sudah nampak, sejak 1 Januari 2011 Permendag tersebut diberlakukan, nilai ekspor rotan olahan mencapai US$ 27 juta, nilai ini hampir sama dengan 12 bulan tahun 2011 yang mencapai US$ 32 juta," tandas Gita.

(dnl/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads