"Saya pikir kenapa harus dinaikkan sekaligus, listrik 10%, buruh 30%, mati kita melawan barang-barang impor," kata Sofjan dalam acara "Indonesia dan Uni Eropa: Kemitraan yang Unik untuk Kesejahteraan" di Financial Club, Graha Niaga, Senin (27/2/2012).
Sofjan mengaku pengusaha sudah siap-siap dengan perhitungan terburuk bahwa harga BBM akan naik sekitar Rp 1500 atau Rp 6000/liter. Ia memastikan kenaikan BBM akan akan menyebabkan harga barang-barang naik sebelum adanya kenaikan BBM.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya kenaikan harga BBM menjadi Rp 6000/liter secara umum memang masih bisa diterima pengusaha skala besar. Justru, yang ia khawatir adalah pelaku industri kecil atau UKM yang makin tergencet terkait rencana kenaikan tarif listrik. Misalnya ia mengilustrasikan UKM garmen yang banyak memakai mesin jahit listrik pasti akan terbebani kenaikan tarif listrik.
"Yang saya nggak setuju itu adalah kenaikan Listrik, disamping PLN sudah untung sampai Rp 11,7 triliun. Sebenarnya kalau jalankan 10,000 MW pakai batubara dan sebagian pakai gas, nggak ada yang perlu dinaikkan, dan itu yang paling banyak digunakan UKM seperti tukang jahit," katanya.
Ia mendesak agar pemerintah harus benar-benar bijaksana jangan hanya menaikan tarif listrik maupun BBM, tapi tidak memperhitungkan dengan jelas apa kebutuhan dan dampaknya.
"Selama pemerintah uang lebihnya untuk bangun infrastruktur, jangan buat naikkin gaji pegawai negari nggak guna buat kita, lebih baik jangan naik kalau uangnya buat naikkan gaji pegawai negeri," katanya.
(hen/dru)











































