BBM Naik Rp 1.500, Pertumbuhan Industri Hanya Terpangkas Tipis

BBM Naik Rp 1.500, Pertumbuhan Industri Hanya Terpangkas Tipis

Zulfi Suhendra - detikFinance
Rabu, 07 Mar 2012 16:09 WIB
BBM Naik Rp 1.500, Pertumbuhan Industri Hanya Terpangkas Tipis
Jakarta - Kementerian perindustrian (Kemenperin) telah melakukan kajian internal soal dampak kenaikan BBM bagi kinerja dan pertumbuhan industri non migas. Hasilnya jika BBM naik 33% atau Rp 1.500 per liter maka hanya memangkas pertumbuhan 0.12%.

Pemerintah mematok pertumbuhan industri non migas tahun 2012 sebesar 7,1%. Namun jika dampak krisis Eropa dan AS semakin parah maka industri hanya tumbuh 6,5%.

Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kementrian Perindustrian, Dedi Mulyadi menambahkan sektor industria akan turun 0,14% apabila BBM naik 44% atau Rp 2000 per liter. Yang menarik sektor makanan yang menurutnya akan tetap stabil terhadap kenaikan BBM ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi kenaikan 33% ini penurunannya hanya 0,12%, ada satu sektor dimana sektor makanan itu tidak terpengaruh, akan ajeg, dan tidak mengalami penurunan berarti dengan adanya kenaikan BBM," jelas Dedi dalam acara konferensi pers di kantornya, Rabu (7/3/2012)

Selain kenaikan harga BBM, ada pula perhitungan dampak pertumbuhan industri terhadap kenaikan tarif dasar listrik (TDL) 10%. Diperkirakan kenaikan TDL akan berakibat sektor industri turun 0,14%.

Dedi menambahkan apabila kenaikan BBM dan TDL dilakukan bersamaan juga tidak memberikan pengaruh yang signifikan, penurunan akan berada di kisaran angka 0,26%. "Seandainya dilakukan serentak BBM dan TDL itu dampaknya terhadap sektor industri itu hanya 0,26%," jelas Dedi.

Sementara di sektor ekonomi makro juga hampir sama dengan sektor perindustrian yang tidak mengalami perubahan yang berarti terhadap dampak kenaikan-kenaikan ini. Dengan kenaikan BBM 33% PDB riil nasional turun relatif kecil yaitu hanya 0,096% dan inflasi 0,356%. Dampak yang diakibatkan dari kenaikan TDL pun tidak terlalu terasa, yaitu di angka 0,067% dan inflasi 0,072%. Jelas Dedi dalam kajiannya.

Kajian yang dibuat selama 2 minggu ini nertujuan untuk menganalisis dampak kenaikan harga BBM dan TDL terhadap kinerja-kinerja sektor industri pengelolaan non-migas, dan juga menganalisis dampak harga BBM dan TDL terhadap ekonomi makro Indonesia seperti GDP riil, konsumsi rumah tangga, investasi, inflasi, ekspor, dan impor. Analisis ini menggunakan Computable General Equilibrium (CGE) sebagai alat analisis utama.

(hen/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads